Pdt. Deserius juga mewanti-wanti warga Suku Mee dan Suku Kamoro agar tidak terprovokasi melakukan aksi kekerasan, intimidasi, maupun pengusiran yang berpotensi merusak hubungan kekerabatan di kawasan pesisir dan pegunungan Papua tersebut.
Gereja menegaskan bahwa keadilan dan perdamaian harus berjalan selaras guna melahirkan kesepakatan permanen yang dihormati kedua belah pihak.
“Keadilan dan perdamaian harus berjalan bersama, sebab perdamaian yang mengabaikan kebenaran dan hak masyarakat adat bukanlah perdamaian yang utuh; sebaliknya, perjuangan atas hak adat harus ditempuh melalui cara-cara damai, bermartabat, dan bertanggung jawab tanpa kekerasan,” tegas Pdt. Deserius.
DKP KINGMI berharap dialog adat yang diinisiasi oleh para pimpinan suku dapat menjadikan Kapiraya sebagai ruang rekonsiliasi bersama, sekaligus mengakhiri tensi perbatasan yang sempat memicu keresahan jemaat dan warga lokal. (mww/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Tim Sapu Bersih Penyalahgunaan Migas Provinsi Papua menemukan sejumlah indikasi penyalahgunaan dalam penyaluran BBM bersubsidi…
Persipura bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Mutiara Hitam sebelumnya menjadi salah satu kandidat…
Pembatasan tersebut sejalan dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nomor 19 Tahun 2026…
Kepala Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dinas Kominfo Provinsi Papua, Thomas Sibi, menjelaskan bahwa…
Audiensi tersebut membahas sejumlah persoalan pertanahan yang terjadi di Papua, termasuk perkembangan penanganan…
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Keerom, Linus Pasarang, yang membuka kegiatan menegaskan pentingnya penguatan…