Massa juga mengaitkan pembangunan jalan tersebut dengan kekhawatiran terhadap perubahan kawasan hutan dan kehidupan masyarakat adat. Mereka meminta pemerintah tidak hanya melihat pembangunan dari sisi infrastruktur, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat yang hidup dan menggantungkan sumber penghidupan dari wilayah adat.
“Kalau kita diam, maka kita akan musnah di Tanah Papua. Kalau kita diam, kita bukan hanya akan dieksploitasi, tetapi kita akan dirampas oleh kaum yang menindas,” tegasnya.
Sebelumnya, masyarakat adat yang terdampak pembangunan jalan Wanam-Muting telah menempuh jalur hukum dengan menggugat SK Bupati Merauke ke PTUN Jayapura. Gugatan tersebut berkaitan dengan keputusan mengenai kelayakan lingkungan pembangunan jalan sepanjang 135 kilometer. (ulo/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Danrem 172/ PWY Brigjen TNI. Robby Suryadi untuk upaya pengejaran tentunya ada upaya yang dilakukan…
Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan sejak beberapa hari terakhir, keberadaan kabut asap tebal akibat…
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Merauke Rudi, mengatakan, kedua survivor ditemukan setelah Tim…
Departemen Keadilan dan Perdamaian (DKP) Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua menyatakan dukungan…
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengatakan, sejumlah ruas jalan saat ini tengah dikerjakan untuk membuka…
Penegasan tersebut disampaikan Kepala BTNW Acha Anis Sokoy untuk meluruskan persepsi masyarakat mengenai lokasi sejumlah…