Suara Abraham Kabey meninggi dan suaranya pecah menahan duka. Irene terus berteriak meminta pertolongan. Namun harapannya seperti lenyap di balik prosedur dan administrasi. “Para petugas tetap tidak memeriksa Irene dan diminta selesaikan administrasi,”ujar Abraham sambil menangis. Ambulans akhirnya melaju menuju RSUD Dok II Jayapura. Kota sunyi, tetapi di dalam kendaraan itu, perjuangan seorang ibu melawan maut berlangsung dalam senyap.
Hingga di turunan tanjakan Skyline menuju Entrop, Irene menyerah. Di sana, di tengah perjalanan menuju rumah sakit yang diharapkan bisa menyelamatkannya, ia menghembuskan napas terakhir, bersama calon bayinya. Pihak keluarga kini berencana menuntut pihak rumah sakit atas perlakuan yang mereka alami. Kisah Irene menjadi potret buram tentang jurang antara fasilitas dan pelayanan kesehatan di Jayapura. Jurang yang kadang terlalu lebar untuk dijembatani, bahkan oleh sebuah ambulans yang melaju sekuat tenaga. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Papua, Nicky Mehue, mengatakan pihaknya siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten…
Bupati Jayapura Yunus Wonda mengatakan, Kalkote memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu tujuan…
Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Merauke, Romanus Kande Kahol, mengatakan, hasil sidak menunjukkan bahwa…
Kabid Damkar Pemkab Jayawijaya Karman mengakui selama penangan karhutla pada musim kemarau ini, damkar Jayawijaya…
Penyisiran diawali dari kawasan Pasar Enarotali. Di lokasi tersebut, polisi menemukan sedikitnya enam kelompok masyarakat…
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika I Wayan Suyatna menjelaskan bahwa seluruh titik rawan pencarian…