Categories: FEATURES

Pasien Bisa Diajak Ngobrol Karena Dalam Kondisi Sadar

Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Anastesi Indonesia, Cabang Papua ini, melakukan operasi kompleks seperti ini di Papua tidaklah mudah. Kendala seperti ketersediaan alat, kesiapan darah, dan masalah teknis seperti pemadaman listrik sering menjadi hambatan.  Namun, dengan perencanaan yang matang dan kerja sama tim yang solid, operasi berjalan dengan lancar. Pasien yang dioperasi pada hari itu berhasil melewati prosedur selama 2,5 jam tanpa kendala berarti.

“Komunikasi pasien selama operasi sangat baik, pasien kembali ke ruangan dengan kondisi stabil dan keluarga pasien juga sangat antusias dan bersyukur,” ujarnya. Keberhasilan ini menandai lompatan besar dalam pelayanan kesehatan di Papua, khususnya di bidang anastesi dan bedah saraf. dr Albinus mengungkapkan kebanggaannya. Pasalnya, ini sudah menjadi mimpinya dengan dr.Tommy J Numberi serta dokter-dokter lainnya yang ada di RSUD Jayapura.

Namun beberapa kali kendala yang dihadapi, seperti bahan dan alat yang tidak ada terutama obat-obatan. “Rumah sakit ini memag banyak kekurangannya, namun dengan koordinasi sehingga segala sesuatu yang kita butuhkan saat itu bisa dikerjakan,” bebernya. Bagi dr Albinus, metode awake craniotomy bukan hal baru baginya. Selama menempuh pendidikan  ia kerap mengerjakan itu.

“Saat ini saya sedang sekolah dan mengambil Spesialis Anestesi Konsultan Neuroanestesi. Nah, di tempat saya sekolah di Bandung mengerjakan itu. Namun karena Bandung sudah biasa mengerjakannya maka itu hal biasa bagi mereka, ilmu itu kemudian saya terapkan di sini,” bebernya.

Dalam kekurangannya, dokter-dokter Papua bisa menunjukan kemampuannya. Kekurangan bahan dan alat di RSUD Jayapura bukan jadi alasan bagi mereka untuk tidak melakukan gebrakan. “Dalam perbincangan orang-orang tentang nilai negatif RSUD Jayapura, namun kami bisa menciptakan sesuatu yang baru dan menjadi sejarah perkembangan dunia medis terutama di bedah saraf,” kata dr Albinus.

Seiring dengan terobosan yang telah dilakukan di rumah sakit milik pemerintah. Ia berharap Pemerindah daerah (Pemda) melihat ini sebagai suatu kemajuan, sehingga ke depannya bisa membantu membiayai putra-putri Papua bersekolah.

“Terus terang sampai hari ini saya tidak dapat dana beasiswa atau bantuan pendidikan dari Pemda. Saya sekolah kedokteran di Bandung, kemudian terapkan ilmu saya disini demi nama baik Pemda dan nama baik Papua,” ucap PNS di RSUD Jayapura ini.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Ketemu Tupai Jinak, Kayu Bolong dan Guyuran Hujan

Untuk mencapai pintu rimba, kami memilih menggunakan kendaraan milik warga. Pilihan ini bukan tanpa alasan.…

15 hours ago

Komoditas Kayu Masih Jadi Andalan Ekspor Papua

BPS Provinsi Papua, Emi Puspitarini, di Jayapura, Senin, mengatakan komoditas kayu masih menjadi penyumbang terbesar…

16 hours ago

Abisai Rollo: Hutan Bakau Tetap Harus Dilestarikan!

Ia menjelaskan bahwa kawasan hutan bakau di Jayapura, khususnya di wilayah Hamadi hingga Holtekamp, memiliki…

17 hours ago

Awasi Ketat UAS SD, Demi Objektifitas dan Integritas Ujian

Ujian ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, dimulai sejak, Senin 4 Mei hingga Kamis, 7…

18 hours ago

Kelulusan Siswa SMAN 1, Jaga Nama Baik Sekolah

Menurutnya, kelulusan merupakan awal dari harapan baru bagi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang…

19 hours ago

Kibarkan Bintang Kejora Saat Kelulusan, Kobakma Ricuh

Kericuhanpun tak terhindarkan, aparat harus menghindari lemparan batu sambil melepas tembakan gas air mata. Dari…

19 hours ago