Categories: FEATURES

Akhirnya Bisa Rasakan Buah Anggur Meski Disebut Berpotensi Melanggar HAM

“Pengawasan itu ketat sekali, kami berupaya semaksimal mungkin sebab kalau satu celah ditemukan maka potensi dapur tutup itu sangat memugkinkan,” beber Hesty. “Jadi dapur dan fasilitas peralatan di dapur harus benar-benar baik, dan dikelolah oleh chef yang terferifikasi. Kemudian pengawasannya harus lebih detail untuk dapur yang kita kelola,” ujarnya.

Hesty Kere menjelaskan bahwa program MBG memiliki banyak tahapan dan diawasi secara ketat. Dikatakan MBG sejatinya sangat dibutuhkan anak-anak sekolah mengingat pemerintah memiliki target Indonesia sehat dan cerdas. “Saya pikir dampaknya sangat banyak. Anak – anak kini bisa makan di sekolah dan mengurangi biaya uang jajan dari orang tua. Anak anak juga tau buah anggur itu yang seperti apa. Lalu dari MBG ini membuat uang jajan akan hemat sedangkan bagi mereka yang tak pernah jajan justru bisa makan,” beber Hesty.

Iapun memaparkan tentang pengalamannya dimana menu setiap waktu akan diganti. Lalu kecukupan gizinya harus selalu dicek. “Jadi dalam 1 ompreng itu kandungan gizinya harus seimbang dan sesuai. Cuma saya setuju sebaiknya dapur ini dimasak oleh mama-mama Papua saja, jangan yang lain,” imbuhnya.

Hesty memaparkan bahwa dampak positif lainnya adalah membuka lapangan pekerjaan dan uang mengikuti beredar dipasaran. “Karyawan yang bekerja ada 60 karyawan. Setiap hari ada speedboat yang kami pakai untuk mengantarkan MBG. Lalu penjual sayur, penjual buah termasuk security 2 orang yang juga bisa digunakan untuk mendongkrak pendapatan,” tambahnya.

Akhirnya MC menyimpulkan bahwa layak dilanjutkan namun dengan banyak evaluasi dan tidak mengabaikan hak-hak anak lainnya termasuk pendidikan. Sementara selain diskusi, event ini juga tersaji pameran foto dimana ada ratusan foto jurnalis dipajang mengelilingi lokasi. Selain itu ada juga pembacaan prosa atau puisi yang dibawakan oleh jurnalis untuk memeriahkan Hari Pers.

Disini suasana mendadak sunyi dan senyap usai salah satu wartawan Cenderawasih Pos, Abdel Gamel Naser melantunkan puisi karanganya di tengah krisisnya pendidikan dan literasi di negara yang tercinta Indonesia. Dengan lugas dan tegas ia baca di setiap bait demi bait, mengandung arti dan makna yang mendalam. Krisis pendidikan, literasi, ekonomi, hingga perhatian pemerintah terhadap fakir miskin dan anak-anak terlantar menjadi pemicu dirinya mengangkat puisi yang berjudul “Catur Sila”.

Page: 1 2 3 4 5

Juna Cepos

Recent Posts

Tak Hanya Pembebasan Denda, Samsat Juga Beri Diskon Pembayaran Pokok Pajak Kendaraan

Samsat Wamena memastikan tidak hanya melakukan penghapusan denda pajak kendaraan namun juga memberikan diskon untuk…

1 day ago

Pengangguran Papua Naik 7,02 Persen, Partisipasi Kerja Menurun

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2026 sebesar…

1 day ago

Makan Pakai Tangan Nyata Bermanfaat bagi Tubuh

Mulai dari pencernaan yang lebih lancar, kontrol porsi makan, hingga membantu meningkatkan kesadaran penuh (mindfulness)…

1 day ago

Banyak Pasien Datang Stadium Lanjut, Pendamping Pasien Kanker Paru Diperkuat

Data GLOBOCAN 2022 menunjukkan kanker paru menjadi penyumbang kasus dan kematian kanker tertinggi di dunia.…

1 day ago

Isu Penghentian Rekrutmen CPNS Diklarifikasi

Menurutnya, kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan fiskal daerah, mengingat beban belanja…

1 day ago

Ikan Sapu-sapu “Serang” Danau Sentani?

Kabar terkait keberadaan ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus yang ditemukan di Danau Sentani sempat membuat…

1 day ago