Categories: FEATURES

Sehari Rata-rata Produksi 2.240 Potong Tahu, Hanya Layani Pembelian di Rumah

Melihat Rumah Tahu Pondok Bagari di Kali Acai Abepura

Maraknya persaingan rumah produksi  tahu tidak jadi kendala  bagi Rumah Tahu Pondok Bagari.  Intinya dalam menjalankan usaha ini tetap menjaga kualitas produk dan pelayanan kepada konsumen.

Laporan_Yohana-JAYAPURA

Aktivitas Rumah Tahu Pondok Bagari Kali Acai Abepura, pagi itu nampak dipenuhi dengan kesibukan. Ada yang menyiapkan tahu yang telah siap untuk dijual. Sementara yang lain mempersiapkan kedelai yang telah direbus, digiling dan menyiapkan perapian yang terus menyala.

Salah seorang pekerja ditugaskan untuk mengontrol perapian  agar tetap menyala, dengan cara memasukkan setiap potongan kayu bakar, yang merupakan limbah kayu baik dari ampas kayu buangan maupun ranting dan cabang pohon.

Suasana pabrik pagi itu dipenuhi dengan bunyi mesin penggilingan. Tidak heran dalam pabrik tahu tersebut tidak terdengar percakapan antara para pekerja, karena tertutup bisingnya mesin penggiling dan perapian yang terus berbunyi.

Bahkan para pembeli yang ingin membeli tahu langsung di rumah produksi tersebut, harus bersuara keras atau menggunakan bahasa isyarat,  untuk mengatakan berapa banyak jumlah tahu yang ingin dibeli.

Pembeli tahu baik konsumsi rumah tangga maupun warung makan lebih suka membeli langsung di pabrik ketimbang membeli di pasar.  Selain harganya murah, yakni Rp 3 ribu/potong,  sedangkan yang dijual dipasaran harganya  Rp 4 ribu – Rp 5 ribu/potong.

Ari Pengusaha Rumah Tahu Pondok Bahari menjelaskan bahwa, setiap harinya mereka dapat memproduksi 2.240 potong tahu.

Penjualan dilayani di area rumah produksi saja, karena pelanggan langsung ambil sendiri. Baik itu penjual sayur keliling, maupun pelanggan konsumsi rumah tangga maupun warung makan.

“Kami sudah lama tidak menjual dengan mengirim tahu semenjak pandemi Covid lalu, dimana konsumen kami langsung ambil di tempat. Memang untuk jumlah produksi sudah berkurang, tetapi kami masih bersyukur karena masih dapat beroperasi sampai saat ini, “ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (31/8) kemarin.

Jika dilihat untuk biaya bahan baku, untuk kedelai karung  isi 50 kg Rp 580 ribu, belum ditambah biaya lainnya. Dengan produksi setiap hari 2.240 per hari membutuhkan  6 karung kedelai .

Meski saat ini produksi tahu banyak bermunculan, dirinya tidak khawatir, karena setiap usaha memiliki rezeki masing-masing.

“Semakin banyak produksi tahu, secara otomatis banyak konsumen yang bisa terlayani dengan baik, kami pada dasarnya hanya menjaga kualitas, dan kembali lagi bahwa konsumen adalah raja, “terangnya.(*)

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Arthur Viera: Persipura Bukan Sekadar Klub

Setelah melewati satu musim penuh kompetisi, Arthur akhirnya merasakan langsung bagaimana atmosfer sepak bola di…

5 hours ago

Komnas HAM: Itu Kejahatan Serius!

Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menilai peristiwa tersebut sebagai dugaan pelanggaran hak asasi manusia…

6 hours ago

Fenomena Blue Moon, Warga Pesisir Waspadai Pasang Air Laut

Fenomena astronomi langka Blue Moon atau Bulan Biru diprediksi akan kembali terjadi dalam waktu dekat.…

7 hours ago

Dari 5 Kasus, Amankan 9 Tersangka dengan Barang Bukti 2,5 Kg Ganja

Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) X Jayapura berhasil mengungkap lima kasus tindak pidana narkotika jenis…

8 hours ago

Rumah Tenaga Medis hingga Jalan Jadi Aspirasi Warga Mamberamo Raya

Kepala Kampung Warembori, Steven Samber, meminta Pemerintah Provinsi Papua melanjutkan pembangunan Koperasi Nelayan Merah Putih…

9 hours ago

Harga Bapok di Pasar Melejit, Pedagang Mengeluh Sepi Pembeli

Harga tomat yang biasanya berada di kisaran normal kini menembus Rp 45.000 - 60.000 per…

10 hours ago