Categories: FEATURES

Hanya Bermodalkan Rp 500 Ribu, Makanan Basi Terdeteksi Lima Detik.

“Aman” jika makanan masih layak dikonsumsi atau “Basi” apabila terindikasi mengalami pembusukan. Hasil pemeriksaan juga dapat dipantau melalui telepon pintar menggunakan aplikasi berbasis Kodular yang terhubung melalui jaringan Wi-Fi. Bisa jadi satu detik langsung keluar hasilnya, memang tergantung koneksi,” kata Abyan.

Alat tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi berbagai jenis makanan. Mulai dari nasi, sayuran, daging, hingga buah. Sementara untuk makanan kering, pengguna masih perlu melihat tanggal kedaluwarsa sebagai acuan keamanan. Tak hanya berhenti sebagai proyek sekolah, Detektor MBG kini diikutkan dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) dan telah lolos tahap pertama. Jika berhasil melaju ke tahap berikutnya, Abyan dan Pradipta berkesempatan mengikuti kompetisi tingkat nasional di Jakarta.

Ide pembuatan alat tersebut muncul setelah kedua siswa membaca berbagai pemberitaan di media sosial mengenai kasus keracunan makanan di sejumlah daerah. Bersama pembina KIR, mereka kemudian mengembangkan gagasan tersebut menjadi sebuah alat pendeteksi kesegaran makanan. Proses pengembangan memakan waktu sekitar lima bulan, mulai dari penyusunan konsep, perancangan perangkat, hingga pemrograman sistem dengan biaya sekitar Rp 500.000.

“Tantangan terbesar ada pada proses pemrograman karena pembacaan sensor sering mengalami eror,” kata Abyan. Keduanya memang memiliki ketertarikan pada bidang penelitian dan teknologi. Mereka aktif mengikuti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) serta berbagai perlombaan. “Robotik juga,” ujarnya. Karya tersebut juga mendapat perhatian lebih luas. Abyan menyebut sekolah sempat dihubungi tim dari wakil presiden pada Senin (27/7). Setelah itu, pihak kepolisian datang untuk melakukan konfirmasi dan meminta sejumlah data terkait mekanisme alat serta identitas kedua siswa.

Kepala Sekolah SMPN 1 Turi Hospita Henny Koerniati mengatakan, pihak sekolah bangga atas inovasi yang dibuat siswanya. Menurutnya, karya tersebut menunjukkan kepedulian pelajar terhadap persoalan yang terjadi di masyarakat. “Kami dari sekolah sangat apresiasi dan memberi penghargaan yang memang setinggi-tingginya untuk anak-anak kami,” katanya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Tahapan Seleksi Sekda Definitif Papua Pegunungan Tunggu SK dari Presiden

PJ Sekda Provinsi Papua Pegunungan Drs. Wasuok Demianus Siep menyatakan untuk jabatan Sekda Papua Pegunungan…

5 hours ago

Ratusan Warga Sambut Kunjungan Gubernur Apolo Safanpo di Warse dengan Perahu Tradisional

Pantauan di lokasi, sejak pagi ratusan warga mendayung perahu tradisional untuk menjemput speedboat yang ditumpangi…

6 hours ago

Gubernur Berharap Asrama SMAK Asmat Jadi Tempat Pendidikan Budi Pekerti

Gubernur  Apolo mengatakan kehadiran asrama diharapkan tidak hanya mendukung proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi…

7 hours ago

Pemkab Biak Numfor dan Supiori Diminta Usulkan Tambahan Kuoata

Selain melihat dari dekat antrian kendaraan, Marthinus Pasang juga menemui pengelola SPBU dan pihak  Rayon…

8 hours ago

Pemkab Puncak Jaya Perkuat Jiwa Kewirausahaan Pemuda

  Sebanyak 50 peserta yang terdiri dari pemuda dan wirausaha pemula dari berbagai wilayah di…

9 hours ago

IDI Jayawijaya Didorong Bentuk 7 Cabang di Wilayah Papua Pegunungan

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Jayawijaya kini dijabat oleh dr. Charles Manalagi, Sp.Og untuk periode…

10 hours ago