

Suasana diskusi dan pemaparan hasil analisis Yapal Papua yang dilakukan di Kampung Yenggu Lama, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Kamis (30/1) kemarin. (foto: Yohana/Cepos)
Melihat Kajian Analisis Dampak Perubahan Iklim di Kampung Yenggu Lama Distrik Nimboran
Dampak perubahan iklim diyakini dapat merugikan masyarakat dalam hal mempertahankan sumber daya alam yang berkelanjutan. Yayasan Pelestarian Alam (Yapal) Papua mencoba menganalisi. Apa hasilnya?
Laporan: Yohana-Rhepang Muaif
Kampung Yenggu Lama, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, merupakan bagian dari wilayah Komunitas Adat Yano Akrua yang menjaga Hutan Adat Ku Defeng Akrua seluas 2.226 hektar.
Hutan ini ditetapkan sebagai hutan adat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2022. Namun, wilayah hutan adat ini juga termasuk dalam Hak Guna Usaha (HGU) PT. Permata Nusa Mandiri seluas 10.370 hektar sejak 2018. Hingga Agustus 2024, HGU tersebut masih tercatat aktif menurut ATR/BPN, dengan pembukaan lahan yang terus berlangsung di area sekitar hutan adat.
Dampaknya jelas, bahwa perubahan iklim salah satu pemicunya adalah penggundulan hutan. Menurut (UNFCCC, 1992) terjadinya perubahan iklim adalah akibat dari aktivitas manusia, baik secara langsung dan tidak langsung yang mengubah keseluruhan sistem iklim secara global.
Komposisi sistem iklim yang berubah mencakup atmosfer, hidrosfer, geosfer dan interaksi diantaranya deforestasi dan degradasi hutan sampai saat ini masih menjadi penyebab utama laju perubahan iklim selain dari faktor penggunaan energi fosil.
Badan Pengurus YAPAL, Fientje Jarangga mengatakan hutan membantu penyerapan unsur karbondioksida yang ada di atmosfer dan mendaurnya dengan proses alami sehingga suhu bumi yang stabil dapat dipertahankan dan tidak mengalami perubahan signifikan dalam rentang waktu pendek.
(IPCC, 2019 p.17) menyebutkan bahwa perubahan iklim akan mengakibatkan tekanan tambahanpadalahan, risikokehilanganmatapencaharian,hilangnya keanekaragamanhayati, perubahan sistem pangan, kesehatan manusia dan ekosistem di bumi serta berdampak pada infrastruktur.
(The World Bank, 2010) menyebut mereka yang termasuk dalam kelompok rentan adalah yang masih bergantung penuh dan secara langsung dengan mata pencaharian terkait iklim seperti pertanian, hasil hutan dan perikanan. Selain kehilangan mata pencaharian, mereka yang terdampak juga akan kehilangan sumber – sumber pangan.
Dengan demikian menurut Fientje salah satu kelompok paling rentan yang akan mengalami krisis kehilangan mata pencaharian dan kekurangan pangan karena perubahan iklim adalah masyarakat adat.
Nerlince mengatakan, pembayaran ganti rugi atas lahan tersebut sudah berlangsung beberapa tahun oleh Pemerintah…
Menurut Fakhiri, pembangunan Papua tidak dapat hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi.…
Menurut Mote, konektivitas menjadi kebutuhan penting untuk membuka akses masyarakat sekaligus mempercepat pembangunan di Waropen.…
Topografi Kota Jayapura yang unik diapit oleh gugusan perbukitan curam dan bentangan pesisir pantai membuat…
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Papua Jacleana Joku berharap pengusaha di Papua memanfaatkan peluang…
-Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri meminta para bupati dan wali kota tidak menyerahkan agenda penting…