Categories: BERITA UTAMA

Salib Hitam Bentuk Protes Mahasiswa

Tak hanya massa aksi membawa salib, situasi kontra lain, yang menjadi perhatian masyarakat juga terlihat di Abepura, titik berkumpul masa. Di lokasi tersebut massa aksi secara bergantian melakukan orasi dengan background tak asing.

Terlihat sebanyak empat tiang bendera Merah Putih, berdiri tegap dan terus berkibar meski suara mikrofon dan sound sistem serta teriakan dari masa aksi terus mengemah dilangit Abepura dengan jutaan sindiran.

“Kami bukan merah putih, kami adalah bintang kejora,” nyanyian masa aksi di sela orasi. Suara nyaring lain juga dari para korlap saat sebelum berorasi yang berkali-kali disebut yakni “Papua? Merdeka!!!!”.

Demikian bunyi orasi yang disampaikan oleh beberapa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas, diantaranya;  Jarinus Murib, Ketua BEM Universitas Muhammadiyah Papua saat aksi demonstrasi ‘Papua Darurat Militer dan Kemanusiaan’ di Lingkaran Abepura.

Jarinus Murib dalam orasinya menegaskan Panglima TNI harus bertanggungjawab atas peristiwa penembakan yang mengakibatkan seorang anak umur 5 tahun tertembak di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak bahwa pelakunya harus segera ditangkap dan diadili.

”Aparat militer yang melakukan operasi harus diusut dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini,” tegasnya.

Jarinus membeberkan bahwa aparat militer telah memutarbalikkan fakta yang terjadi atas operasi yang sudah di lakukan sehingga mengakibatkan warga sipil menjadi korban.

Ditempat yang sama Prio Wakerkwa, mahasiswa dari Universitas Cendrawasih (Uncen) menyatakan, orang Papua akan hidup dan mati di atas tanahnya sendiri. Ia mengatakan rakyat Papua ingin hidup damai bukan mengalami peristiwa pembunuhan di mana-mana.

”Kami hidup di tanah ini. Tuhan kasih tanah ini bukan di Jakarta. Kami akan mati di Papua tetapi ingin hidup damai bukan dapat bunuh seperti hewan,” jelasnya.

Prio menegaskan bahwa meskipun tidak memilki kekuatan besar untuk melawan negara tetapi kekuatan Tuhan yang akan membalas seluruh kejahatan yang terjadi di Tanah Papua. Karena itu Ia mendesak Panglima TNI agar segera menarik pasukan dari Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Tolikara, dan seluruh Tanah Papua.

“Saya utusan dari pengungsi yang turun di Puncak Jaya. Saya tidak bisa melawan negara yang besar, saya tidak punya kekuatan saya hanya punya Tuhan yanga akan membalas segala kejahatan yang akan dilakukan oleh aparat di negara ini,” pungkasnya.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Recent Posts

Presiden Harus Bersikap Setelah Gereja Beri SinyalPresiden Harus Bersikap Setelah Gereja Beri Sinyal

Presiden Harus Bersikap Setelah Gereja Beri Sinyal

Komisi 1 DPR Papua menilai langkah sejumlah denominasi gereja di Tanah Papua yang membentuk wadah…

1 day ago

Bangunan Pasar di Perbatasan RI-PNG Mulai Rusak, PAD Tak Maksimal

   Menurutnya, pasar dengan sekitar 200 kios tersebut memiliki potensi ekonomi besar. Ia mendapat informasi…

1 day ago

Prabowo Persilakan KPK Periksa Menterinya

Presiden Prabowo Subianto memastikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat mengusut hingga melakukan penindakan terhadap menteri…

1 day ago

Selesaikan Konflik, Pimpinan Daerah Diminta Rangkul Semua Pihak

Menurutnya, dengan lahirnya undang-undang nomor 15 Tahun 2022 terkait dengan DOB semestinya Gubernur pimpin barisan…

2 days ago

Uncen Berduka, Jangan Ada Palang Memalang

Suasana duka yang lagi menyelimuti Universitas Cenderawasih haruslah tercermin dari sikap dan perbuatan. Apalagi yang…

2 days ago

Tokoh Agama Papua Padukan Langkah Demi Kemanusiaan dan Perdamaian

   Keberagaman ini menurutnya harus dipelihara sebagai modal dasar untuk membangun tatanan sosial yang adil…

2 days ago