Categories: BERITA UTAMA

Salib Hitam Bentuk Protes Mahasiswa

Aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa bersama organisasi masyarakat, termasuk Komite Nasional Papua Barat (KNPB), di kawasan Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Senin (27/4), kembali menyoroti isu kekerasan dan kondisi kemanusiaan di Papua.

Ketua KNPB, dalam orasinya menegaskan bahwa perjuangan yang mereka lakukan tidak semata-mata untuk kepentingan Orang Asli Papua (OAP), melainkan seluruh masyarakat yang tinggal di Tanah Papua.

Menurutnya, aksi demonstrasi merupakan bagian dari hak demokrasi yang seharusnya tidak dibatasi, selama dilakukan secara damai. Ia menekankan bahwa para peserta aksi tidak membawa senjata, melainkan menyampaikan aspirasi melalui alat peraga seperti spanduk, pamflet, pengeras suara, serta doa.

“Apa mereka punya senjata? Tidak. Senjata mereka adalah pamflet, spanduk, toa, doa, dan mobil komando. Itu adalah cara mereka menyuarakan ketidakadilan,” ujar Agus.

Dalam orasinya, Agus juga menyoroti kondisi yang ia sebut sebagai krisis kemanusiaan di Papua. Ia mengklaim bahwa berbagai sektor kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, dan kesehatan, mengalami tekanan akibat situasi keamanan yang belum kondusif.

Ia turut mengutip data yang menyebutkan adanya sekitar 107.000 pengungsi internal di Papua yang dinilai belum mendapatkan akses memadai terhadap layanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan.

“Hari ini, situasi kemanusiaan dan kekerasan di Papua sudah stadium lima. Kita tidak melihat tanda-tanda kehidupan dari semua aspek: pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan,” ujar Agus.

Selain itu, Agus mengkritik kebijakan pemerintah pusat yang dinilai lebih fokus pada isu internasional dibandingkan persoalan dalam negeri. Ia juga mendesak agar pemerintah membuka ruang dialog dengan masyarakat Papua.

“Kami ingin duduk di meja perundingan yang dimediasi oleh pihak ketiga. Suara kami harus didengar,” tegasnya.

Dalam pernyataannya, ia juga meminta perhatian Presiden terhadap situasi yang terjadi di Papua, serta mendorong adanya penyelesaian melalui jalur dialog.
Agus turut menyinggung sejumlah wilayah yang disebut masih mengalami konflik.

Berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di tanah papua saat ini perlu mendapat perhatian serius, serta menuntut pertanggungjawaban negara terhadap perlindungan masyarakat sipil,” tutup Agus.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Recent Posts

Wujudkan Motto “Siporannu Sipoda’di” Bagi Korban di Pondok KerahimanWujudkan Motto “Siporannu Sipoda’di” Bagi Korban di Pondok Kerahiman

Wujudkan Motto “Siporannu Sipoda’di” Bagi Korban di Pondok Kerahiman

Zet menjelaskan bahwa musibah ini sama-sama tidak diinginkan dan ia memahami bahwa ada banyak penghuni…

19 hours ago

ABR: John Ibo Tokoh Politik Senior Golkar yang Banyak Berjasa

  "Beliau adalah tokoh politik senior Partai Golkar yang telah banyak memberikan pengabdian dan pemikiran…

20 hours ago

Temuan Pemborosan Anggaran Jadi Perhatian DPRP di APBD Perubahan

   Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, mengatakan pembahasan tindak lanjut akan dilakukan oleh masing-masing…

21 hours ago

DPR Kota Jayapura Tetapkan 12 Raperda Dibahas Tahun Ini

  Regulasi ini mencakup empat (4) Raperda kategori APBD dan Delapan (8) Raperda Non-APBD guna…

22 hours ago

Mantan Bendahara Bunda PAUD Papsel Divonis 4 Tahun Penjara

Putusan Majelis Hakim Tipikor Jayapura tersebut  lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang…

23 hours ago

Pergaulan Bebas dan Faktor Ekonomi Jadi Penyebab 1000 Lebih Anak Berhenti Sekolah

  Sejumlah mama Papua datang dari berbagai Distrik di Kota Jayapura mengenakan sandal jepit, menggandeng…

1 day ago