Categories: BERITA UTAMA

Minta Kepala BBKSDA Dicopot

JAYAPURA – Aksi pembakaran Mahkota Kebesaran Ondoafi atau Raja di atas Tanah Papua berbuntut panjang. Masyarakat adat Tabi-Saereri mendatangi kantor Balai Besar Konserfasi Sumber Daya Alam (BBKSA) Papua pada, Jumat (24/10). Dari pantauan Cenderawasih Pos di lokasi sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan Masyarakat Dan Tokoh Adat Papua itu memasang sepanduk bertuliskan sejumlah tuntutan kepada pemerintah pusat.

Kondisi disekitar lingkungan kantorpun tanpak sepih, aktivitas kantor sepertinya tidak berjalan maksimal usai video pemusnahan itu viral di media sosial. Hanya sedikit pegawai yang menerima kedatangan dari sekolah masyarakat itu.

Dalam keterangan perwakilan Masyarakat adat Tabi-Saereri, Ismael Mebri mengatakan hal ini dilakukan oleh pihaknya sebagai bentuk keperihatinan pihaknya terhadap situasi dan kondisi yang terjadi belakangan ini ditengah masyarakat Papua.

“Kami menyampaikan isi hati kami, air mata kami orang Papua atas peristiwa yang baru terjadi di tempat ini (BKSDA Papua) yang telah membakar mahkota cenderawasih. Ini adalah tindakan yang merendahkan harga diri dan martabat kami orang Papua,” kata Ismail di kantor BKSDA Papua usai pasang sepanduk, Jumat (24/10).

Karena itu, Ondoafi Kampung Yoka tersebut meminta presiden republik Indonesia mecopot Kepala Balai Besar Konserfasi Sumber Daya Alam dari jabatannya. Selain itu, pihaknya juga meminta BKSDA Papua menjatuhi sanksi tegas sesuai undang-undang positif dan undang-undang adat bagi pelaku pembakaran mahkota kebesaran dan dijatuhi denda adat sesuai dengan yang di tetapkan MRP dan dewan adat se-tanah papua.

“Kami meminta Bapak Presiden mengganti Kepala Balai Besar Konserfasi Sumber Daya Alam dengan orang asli papua (Tabi / Saireri) karena hanya orang asli papua yang paham dan mengerti budayanya sendiri,” ujarnya.

Tak sampai disitu saja, masa juga meminta Kantor Balai Besar Konserfasi Sumber Daya Alam di tutup sampai persoalan ini di usut tuntas sesuai tuntutan kami.

Adapun aksi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat adat ini kemudian dilanjutkan ke Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) dengan membawa 10 poin aspirasi tuntutan ke Gubernur Papua guna dilanjutkan ke Presiden. Sementara Kepala Balai Besar Konserfasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) kembali menyampaikan klarifikasi.

Setelah sebelumnya menyampaikan permohonan maaf, ia juga menegaskan bahwa tak ada niat untuk merendahkan harkat dan martabat masyarakat adat Papua.

“Kami menyadari bahwa tindakan ini telah menimbulkan luka dan kekecewaan di hati masyarakat Papua. Tapi kami tegaskan, langkah tersebut semata-mata dalam kerangka penegakan hukum dan perlindungan satwa liar yang dilindungi negara,” ujar Johny Santoso di kantornya di Abepura , Rabu (22/10).

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Indentifikasi Jalur Penyelundupan hingga Dugaan Keterlibatan Oknum Petugas

  Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk deteksi dini guna mengantisipasi maraknya upaya penyelundupan barang…

18 hours ago

ABR: Jangan Salah Gunakan Bantuan Pemerintah!

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., memberikan peringatan keras kepada seluruh aparat kelurahan…

19 hours ago

Fenomena El Nino,  79 Kampung di Dogiyai Terdampak

Ketergantungan warga terhadap pertanian subsisten membuat kerusakan tanaman holtikultura berpotensi mengganggu ketersediaan pangan keluarga

21 hours ago

Jangan Membangun Sebelum Ada Penanganan Pascabencana

  Abisai mengatakan, Pemerintah Kota Jayapura saat ini masih melakukan berbagai upaya dan pembahasan terkait…

22 hours ago

Polisi Tangkap Terduga Pelaku Penipuan Jual Beli Motor

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan melalui Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean mengatakan,…

23 hours ago

Bupati Jayawijaya: CASN Jangan Buru-buru Ajukan Kredit Setelah Terima SK

Bupati menegaskan jika, mereka baru juga diangkat CASN masih ada langkah selanjutnya yang harus diikuti…

1 day ago