

Juru Bicara Jaringan Damai Papua (JDP) Yan Cristian Warinussy SH
JAYAPURA– Jaringan Damai Papua (JDP) meminta aparat segera menangkap provokator. Sebab, dia melakukan hal yang boleh jadi juga terlibat dalam kasus kasus terdahulu termasuk kerusuhan tahun 2019.
“Provokator harus ditangkap, jangan dibiarkan berkeliaran. Aparat harus bekerja ekstra untuk melakukan penangkapan, jangan sampai orang ini kemudian lulus dan nanti suatu ketika dia kembali melakukan hal yang sama dan merugikan banyak orang,” tegas Jubir JDP Yan Cristian Warinussy saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Minggu (26/2).
Yan pun menyayangkan peristiwa Kamis lalu yang terjadi di Wamena, suatu kejadian yang kebenarannya belum bisa dipastikan hingga berujung pada tewasnya warga sipil yang diduga akibat peluru aparat. “Tidak boleh lagi ada warga yang gugur sia-sia karena bentrokan seperti ini,” tegas Yan.
Sehingga itu kata Yan, perlunya koordinasi dan komunikasi. Masyarakat selalu melaporkan setiap kejadian yang dicurigai kepada kepolisian, diharapkan juga pihak Kepolisian bertindak cepat untuk menanggapi setiap masalah yang dilaporkan.
Terkait dengan isu penculikan anak yang memicu terjadinya rusuh di Wamena, Yan mengingatkan warga harus belajar dari kasus yang terjadi di Sorong. Isu penculikan anak yang berujung dengan pembakaran seorang wanita yang tidak berdosa. Sehingga itu kata Yan, warga harusnya tidak mudah terhasut dengan isu yang berlum jelas kebenarannya.
“Jika mendapatkan informasi soal sebuah isu, masyarakat harusnya bisa diantisipasi ketimbang main hakim sendiri. Tidak bisa semua masalah dihadapi dengan emosi, harus dengan kepala dingin,” terang Yan.
“Apapun alasannya, aparat telah melakukan penembakan dengan dalil membubarkan massa. Namun buktinya, ada warga sipil yang meninggal,” tegasnya.
Disampaikan Yan, dari kerusuhan tahun 2019 hingga kejadian Kamis lalu di Wamena. Aparat masih saja dengan mudahnya mengeluarkan tembakan dengan dalil masyarakat menyerang mereka.
“Atas apa yang terjadi menimbulkan pertanyaan dan menimbulkan trauma psikologis orang orang terhadap aparat. Akan ada anggapan bahwa aparat selalu main tembak tanpa ada tindakan bicara dari mulut ke mulut atau mengarahkan orang untuk berhenti menyebarkan hoax,” tuturnya.
Terkait dengan kerusuhan di Wamena, Yan meminta pemerintah setempat perlu membangun komunikasi dan koordinasi diantara semua pihak. Termasuk melibatkan masyarakat dan aparat keamanan.
Yan juga meminta agar aparat keamanan tidak mudah untuk mengeluarkan tembakan, sebagaimana ada protapnya untuk menangani huru-hara, menangani bentrokan maupun konflik.
“Penembakan biasanya diarahkan ke atas, dan kalau ada penembakan yang menimbulkan adanya korban maka saya selalu mendorong penegak hukum jangan mudah untuk membuat statement karena kami diserang oleh masyarakat sehingga mengeluarkan tembakan,” kata Yan.
“Perlu melakukan investigasi terkait kerusuhan di Wamena, supaya jelas kesalahan ada di pihak siap. Apakah benar masyarakat menyerang atau justru aparat keamanan yang tidak bisa mengendalikan suasana dan mengendalikan emosinya,” tandasnya. (fia/wen)
Sebanyak 100 unit rumah permanen yang dibangun pemerintah pusat melalui Kementrian Transmigrasi RI di Kampung…
Persiker merupakan juara Liga 4 zona Papua dan menjadi wakil Papua pada seri nasional. Mereka…
Dari 47 CHJ, terdiri dari 18 laki-laki dan 29 perempuan. Jemaah tertua atas nama Kislam…
Ketua NPCI Papua, Jayakusuma menghadiri rapat kerja nasional (Rakernas) NPCI Pusat di Kota Solo, Jawa…
Pemerintah Provinsi Papua menegaskan komitmen kuat dalam menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M.…
Pemerintah merespons cepat dampak kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) dengan menerbitkan kebijakan strategis melalui…