Categories: BERITA UTAMA

Tuntutan Ganti Rugi Deadlock, Warga Organda Siaga

JAYAPURA – Kelompok masyarakat asal wilayah pegunungan kembali mengajukan tuntutan ganti rugi atau denda adat menyusul tewasnya seorang terduga pelaku pencurian dalam insiden yang terjadi di kawasan Organda, Distrik Heram, Kota Jayapura, pada Rabu 11 Februari lalu. Sabtu (16/5) pekan kemarin, ratusan keluarga korban ini sudah menduduki jalan Poros Perumahan Organda. Warga organda hanya bisa menyanggupi uang denda Rp 30 juta dan empat ekor babi.

Namun, setelah uang dan babi terkumpul, Senin (18/5) kemarin keluarga korban yang kembali memalang ruang jalan Organda ini, malah kembali ke tuntutan awal mereka, yakni minta uang tunai sebesar Rp 500 juta serta 30 ekor babi. Karena dinilai tidak masuk akal, upaya penyelesaian masalah ini pun, mengalami deadlock, alias jalan buntu.

Diketahui sebelumnya, insiden bermula ketika terduga pelaku tertangkap tangan saat melakukan aksi pencurian di salah satu rumah warga di kompleks Organda. Massa yang geram kemudian menganiaya pelaku hingga mengakibatkan terduga pelaku mengalami luka parah dan akhirnya meninggal dunia.
Merespons kematian tersebut, kerabat dan masyarakat pegunungan yang berada di Jayapura berkumpul untuk menuntut keadilan melalui jalur hukum adat tanpa melalui proses hukum positif.

Sejumlah aparat keamanan yang berjaga di jalan poros Perumahan Organda yang diduduki keluarga dari terduga pelaku pencurian yang meninggal. (foto:Jimi/Cepos)

“Kami meminta pihak-pihak yang terlibat bertanggung jawab. Secara adat, kami menuntut denda Rp 500 juta dan 30 ekor babi atas hilangnya nyawa saudara kami,” ujar Wiro Itlay perwakilan keluarga saat menyampaikan tuntutan di Organda, Senin (18/5).

Jumlah tersebut (Rp 500 juta) tersebut dirincikan keluarga almarhum bersumber dari; Ketua RT/RW masing Rp 100 juta, Lurah Rp 100 juta, Warga Organda Rp 100 juta, pemilik rumah korban pencurian Rp 100 juta dan pemerintah Kota Jayapura Rp 100 juta. Upaya mediasi oleh perwakilan pemerintah Kota Jayapura, Lurah, RT/RW hingga Kapolsek Heram terus dilakukan, mulai dari massa mulai berkumpul, pada pukul 06.00-17.00 WIT, namun tak kunjung menemukan titik terang.

Dari pantauan Cenderawasih Pos di lokasi aksi palang jalan ini sempat terjadi ketegangan antara masyarakat terduga pelaku dengan pemerintah setempat dan aparat keamanan yang berjaga. Beruntungnya tidak berlangsung lama, meski salah satu anggota polisi sempat mengalami luka serius di bagian kepala akibat terkena lemparan batu.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Dari Lab Sederhana di Dok II, Lahir Harapan Baru Tenaga Kesehatan Papua

“Kampus ini dibangun untuk menjawab masalah kesehatan di Papua yang belum selesai-selesai,” ungkap mantan Kepala…

11 minutes ago

Film Pesta Babi Bikin Publik Bertanya, Ada Apa dengan Papua?

Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Kedai Kopi One Milly, kawasan Skylan, Kota Jayapura, Selasa…

1 hour ago

LBH Papua: Dogiyai Berdarah, Pelanggaran HAM Berat!

LBH Papua menilai operasi penyisiran aparat keamanan di sejumlah wilayah Kabupaten Dogiyai setelah peristiwa tersebut…

2 hours ago

Di Sentani, Pejalan Kaki Tewas Akibat Tabrak Lari

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius V.D.P Helan,melalui Kasat Lantas Polres Jayapura AKP Robertus Rengil menjelaskan korban…

3 hours ago

Lagi, Kantor Distrik Sentani Dipalang

Lagi-lagi Kantor Distrik Sentani di palang oleh pemilik hak ulayat,mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Jayapura harus…

4 hours ago

Pertanyakan Kinerja Penyidik dan BPK yang Beri Opini WTP Kota Jayapura

Perkara yang menyeret mantan Bendahara SMA Negeri 4 Jayapura Parmi Milka Mugiutomo, sebagai terdakwa utama…

5 hours ago