Categories: BERITA UTAMA

Disiapkan Untuk PON Papua, Tetap Melukis Meski Sepi Pembeli

Yosepina Kere saat memperlihatkan lukisan kulit kayu di rumahnya, Sabtu (18/4).  ( FOTO: Elfira/Cepos)

Yosepina Kere Pengrajin Lukisan Kulit Kayu di Tengah Pandemi Corona

Wabah virus Corona atau Covid-19, tidak menyurutkan semangat Yosepina Kere untuk berkarya menghasilkan lukisan dari kulit kayu. Apa yang dilakukan Yosepina Kere, selama pandemi Corona ini ?

Laporan: Elfira, Sentani, Kabupaten Jayapura

SAAT Cenderawasih Pos menyambangi rumahnya di Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Sabtu (18/4), sejumlah kerajinan tangan dari kulit kayu karya Yosepina Kere digelar di lantai rumahnya yang terbuat dari kayu. 

Wabah virus Corona atau Covid-19, menggoncang semua sektor usaha termasuk kerajinan tangan yang digeluti perempuan asli Papua yang dikarunia tujuh orang anak. 

Sejak awal Maret 2020 lalu, tak ada satu pun hasil karyanya yang terjual. Padahal sebelum pandemi Covid-19 terjadi, Mama Yosepina panggilan akrabnya, sanggup menjual tiga hingga lima lukisan kulit kayu dalam sehari. 

“Jangankan tiga atau empat, satu lukisan kulit kayu saja tidak terjual dalam sehari,” ucap Mama Yosepina kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (18/4).

Biasanya, yang membeli lukisan kayu Mama Yosepina adalah para turis atau orang yang datang dari luar Papua yang kebetulan berkunjung ke Kampung Asei untuk berwisata.

Meskipun sepi pembeli, namun ia mengaku masih tetap melukis. Sebab, lukisan kulit kayu dan ukiran Papua lainnya dibuat untuk persiapan Pekan Olah Raga (PON) di Papua nantinya.

“Daripada keluar rumah, mendingan saya di rumah saja sambil membuat ukiran dan melukis,” ungkapnya.

Kerajinan tangan yang menggunakan wadah kulit kayu ini, digeluti Mama Yosepina sejak tahun 1970-an. Tradisi melukis di di atas kulit kayu mulai ia lakoni sejak masih memiliki dua anak.

Puluhan tahun menekuni melukis di atas kulit kayu, barusan kali ini ia mengaku tidak ada orang yang datang ke kampung untuk membeli hasil lukisannya.

Adapun motif kulit kayu yang biasanya dilukis Mama Yosepina dan warga setempat, yakni motif yang bernuansa kekayaan alam, kearifan lokal, dan keadaan di sekitar lingkungan warga. Dimana setiap lukisan yang dihasilkan memiliki makna bagi keberlangsungan kehidupan warga setempat.

Untuk harga, Mama Yosepina mengaku tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dalam proses pembuatan. Untuk lukisan kulit kayu, Mama Yosepina menjualnya dengan harga mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 1 jutaan. Sementara untuk topi dibanderol dengan harga Rp 50 hingga Rp 200 ribu dan gantungan kunci Rp 30 ribu. “Dengan adanya Corona ini, harga barang saya turunkan. Bisa ditawarlah,” ucapnya.

Adapun lukisan yang paling diminati menurutnya adalah burung Cenderawasih dan perahu yang melambangkan keseharian orang Asei itu sendiri.***

newsportal

Recent Posts

Pemprov Papua Siapkan Mudik Gratis Nataru

   Selain program mudik gratis, Mathius mengatakan Pemprov Papua juga menyiapkan subsidi transportasi laut sebagai…

5 hours ago

Presiden Harus Bersikap Setelah Gereja Beri Sinyal

Komisi 1 DPR Papua menilai langkah sejumlah denominasi gereja di Tanah Papua yang membentuk wadah…

6 hours ago

Bangunan Pasar di Perbatasan RI-PNG Mulai Rusak, PAD Tak Maksimal

   Menurutnya, pasar dengan sekitar 200 kios tersebut memiliki potensi ekonomi besar. Ia mendapat informasi…

6 hours ago

Prabowo Persilakan KPK Periksa Menterinya

Presiden Prabowo Subianto memastikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat mengusut hingga melakukan penindakan terhadap menteri…

7 hours ago

Selesaikan Konflik, Pimpinan Daerah Diminta Rangkul Semua Pihak

Menurutnya, dengan lahirnya undang-undang nomor 15 Tahun 2022 terkait dengan DOB semestinya Gubernur pimpin barisan…

7 hours ago

Uncen Berduka, Jangan Ada Palang Memalang

Suasana duka yang lagi menyelimuti Universitas Cenderawasih haruslah tercermin dari sikap dan perbuatan. Apalagi yang…

8 hours ago