Categories: BERITA UTAMA

Indonesia Butuh Keseimbangan Antara Pertumbuhan dan Stabilitas

Dari Dinamika Copot-Pasang Menkeu Perspektif Akademisi Ekonomi Papua

​JAYAPURA – Langkah mendadak Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dan melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 97/P Tahun 2026 pada Senin, 14 September 2026, memicu perdebatan hangat di kalangan akademisi ekonomi di Tanah Papua.

Keputusan mendadak Presiden Prabowo Subianto di pertengahan September ini dinilai bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan cerminan ketegangan antara ambisi pertumbuhan ekonomi, disiplin anggaran, hingga tata kelola birokrasi di Kementerian Keuangan.

Dua akademisi ekonomi asal Papua turut memberikan ulasan komprehensif mengenai latar belakang, dampaknya terhadap pasar keuangan, serta pesan penting bagi efektivitas pembangunan daerah akibat dari pencopotan mendadak tersebut oleh presiden.

​Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih (Uncen), Dr. Otniel Safkaur, SE., Ak., M.Si., CTA., CMA., CRA., CRP., CertDA., menjelaskan bahwa kebijakan fiskal di era Purbaya memang berhasil menggerakkan roda ekonomi, namun menyisakan beban risiko pada stabilitas makroekonomi.

​”Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara perlu dilihat bukan sekadar sebagai pergantian seorang pejabat, tetapi dalam konteks lebih luas mengenai arah kebijakan fiskal, kredibilitas APBN, stabilitas makroekonomi, dan kepercayaan pasar terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia,” ujar Dr. Otniel, kepada Cenderawasih, Rabu (16/9).

​Menurut Otniel, pendekatan pro-growth yang diusung Purbaya selamat ini dinilai memiliki pijakan ekonomi yang masuk akal karena terbukti menaikkan angka pertumbuhan hingga ke tingkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Meski begitu, terdapat beberapa persoalan mendasar yang menjadi catatan kritikal.

Persoalan pertama terletak pada kredibilitas dan disiplin fiskal, di mana muncul kekhawatiran besar mengenai risiko pelebaran defisit fiskal dan konsistensi pengelolaan APBN akibat dorongan ekspansif yang terlalu agresif. Persoalan kedua menyangkut kepercayaan investor, di mana penurunan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif oleh Fitch dan Moody’s pada 2026 memperlihatkan bahwa pasar global sangat peka terhadap ketidakpastian rencana belanja negara.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Recent Posts

Lima Distrik se Wilayah Walak Sepakat Berikan Sanksi Adat bagi Pelaku Karhutla

Kepala Distrik Bugi Mare Gombo menyatakan pemberian sanksi tegas atau denda adat ini dilakukan usai…

4 hours ago

Transisi Hingga Tumpulnya Lini Depan Jadi Evaluasi

Tim Persipura Jayapura memulai kompetisi Championship 2026/2027 dengan kurang baik. Tim berjuluk Mutiara Hitam itu…

5 hours ago

Materi KUA-PPAS Telah Diserahkan ke DPRP

Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan saat ini sistem yang digunakan…

5 hours ago

Alex Belum Fit dan David Masih Menyesuaikan

Pada laga yang berakhir dengan skor kacamata itu, Persipura hanya memainkan satu pemain asing mereka,…

6 hours ago

Bawa 1,7 Kg Ganja, Dua Tersangka Terancam 20 Tahun Penjara

   Kapolresta Jayapura Kota KBP Fredrickus W. A. Maclarimboen melalui Kasat Narkoba Polresta Jayapura Kota…

6 hours ago

Bima Ragil Bidik Kebangkitan di Laga Berikutnya

Menurut Bima, kehadiran suporter memiliki peran penting untuk menambah semangat pemain ketika pertandingan berlangsung. Dukungan…

7 hours ago