Ia juga menyoroti beban anggaran PSU yang ditanggung oleh Provinsi Papua, padahal dana tersebut seharusnya digunakan untuk pelayanan publik bagi rakyat. “Ketika rakyat Papua harus kehilangan sebagian pelayanan publiknya demi membiayai PSU, tetapi hak pilih mereka justru tidak dijamin secara penuh, maka ini adalah ironi dalam demokrasi kita,” sambungnya.
Sebagai evaluasi pasca PSU, ia mendorong KPU dan pemerintah untuk ke depan mengupayakan langkah teknis yang lebih akomodatif. Prinsipnya adalah maximum facilitation of voting rights, memudahkan warga negara untuk memilih sejauh mungkin sambil tetap menjaga integritas pemilu.
“Prinsipnya adalah maximum facilitation of voting rights. Solusi seperti TPS khusus, optimalisasi mekanisme pemilih tambahan yang sah, dan koordinasi lintas lembaga harus dilakukan, sehingga tidak ada satu pun warga negara yang kehilangan hak pilihnya hanya karena kendala administratif,” pungkasnya. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Seluruh identitas pengemudi serta korban yang merupakan satu keluarga kini telah teridentifikasi secara pasti.…
Mantan pemain PSBS Biak itu memiliki tekad besar untuk bisa mempersembahkan prestasi bagi tim kebanggaan…
Kapolres Jayawijaya melalui kabag Ops AKP Eddy Tohir Sabara menyatakan saat ini ada beberapa kelompok…
Kegiatan pemeriksaan rutin ini mencakup beberapa sasaran utama sikap tampang dan kerapian Pemeriksaan gampol (seragam…
Penyidikan kasus insiden berdarah di perumahan Rafles Residence, Jalan Irigasi Ujung, Mimika, memasuki babak baru.…
Wakil Bupati Yalimo, Yan Kirakla, SPd, meminta aparatur sipil negara (ASN) yang saat ini berada…