Categories: BERITA UTAMA

Potensi Sister City Menjanjikan Namun Belum Tergarap Maksimal

JAYAPURA – Kerjasama dua kota atau Sister City antara Kota Jayapura, Papua, Indonesia dengan Vanimo Green, Sandaun Province, PNG dan Wewak, East Sepik, PNG hingga kini masih berjalan. Hanya sayangnya usai dilakukan penandatanganan MoU pada 2015 silam, banyak program kerjasama belum berjalan maksimal. Sister city terkesan hanya status walau telah diatur dalam Permendagri Nomor 5 tahun 2020 tentang tata cara kerjasama daerah dengan Luar Negeri.

Ini terungkap dalam Lokakarya Diplomasi Budaya dan Kerjasama Perbatasan Kota Jayapura, Vanimo dan Wewak, PNG yang digelar di Aula Kantor Badan Perbatasan, di Skouw, Rabu (2/7).

Lokakarya ini digarap oleh Dr Melyana Pugu selaku Ketua Tim Pengabdian Fisip Uncen. Agenda ini menghadirkan Veronica Wally selaku Kabid Kerjasama Badan Pengelola Perbatasan dan Kerjasaman Provinsi Papua, Reuter Sabarofek selaku Plt Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD), Kota Jayapura dan Mathius Pawara selaku Plt Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura.

Melyana menjelaskan bahwa lokakarya ini ingin mengulas kembali keberadaan sister city yang menjadi “ruang kerja” BPPD.

Dikatakan sister city merupakan sebuah kerja sama antara dua daerah yang berorientasi pada sektor tertentu. Biasanya, dilandasi dengan kemiripan yang ada antara kedua daerah tersebut, seperti latar belakang, sejarah, bahkan kemiripan letak geografisnya.

Konsep dari sister city ini merupakan bentuk diplomasi kemitraan dua kota dari negara yang berjarak namun memiliki kesamaan karakteristik, identitas, geografis, dan kepentingan politik atau ekonomi dengan tujuan untuk menjalin kerja sama antara kota.

“Ini ibarat hubungan antar tetangga yang biasa dilakukan dengan cara kekeluargaan layaknya saudara. Biasa ada kemiripan ekonomi, budaya, geografi serta karakteristik,” ujar Melyana dalam kegiatan.

“Jadi sesama tetangga atau saudara jauh itu kalau bisa saling kenal juga. Pertanyaannya sekarang apakah pegawai BPPD sudah mengenal pegawai BPPD nya di PNG?,” tanya Melyana Pugu.

Konsep sister city sendiri pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1960. Saat itu, pemerintah Kota Bandung menjalin kerja sama dengan pemerintah Kota Braunschweig, Jerman.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Tak Ada Budidaya, Populasi Udang Selingkuh Semakin Berkurang

Udang Selingkuh Wamena adalah lobster air tawar endemis Papua yang secara ilmiah termasuk dalam Cherax…

6 hours ago

Banyak Masyarakat NTT Berkontribusi di Papua Selatan

Dialog tersebut mengusung tema "Generasi Muda, Identitas, dan Realitas Sosial. Wagub Paskalis mengemukakan banyak masyarakat…

7 hours ago

Medical Klinik Pertama Milik OAP Kini Hadir di Merauke

Medical Klinik pertama milik orang asli Papua kini hadir di Merauke seiring dengan peresmian dan…

8 hours ago

Sempat Ditungggu Habiskan Makan, Satu Anggota KKB Intan Jaya Dibekuk

Personel Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 menangkap seorang pemuda berinisial EK (18) di Kampung Bilogai,…

9 hours ago

Perkembangan Teknologi dan Sistem Transportasi Tak Bisa Dibendung

Ramainya perbincangan warganet di media sosial terkait rencana kehadiran Bajaj di Papua mendapat tanggapan dari…

10 hours ago

DPRP Papeg Minta Maaf Tidak Turun Langsung Ke Masyarakat Dalam Situasi Konflik

Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi (DPRP) Papua Pegunungan meminta maaf kepada keluarga korban dan korban terdampak…

11 hours ago