Categories: BERITA UTAMA

Tokoh Agama Sedih, Banyak Kekerasan di Tanah Perjanjian

JAYAPURA – Bentuk kekerasan yang terus berulang disejumlah daerah mendorong salah satu tokoh agama angkat bicara. Pastor Jhon Jonga yang kenyang makan garam mengabdi melakukan pelayanan kemanusiaan di daerah terisolir menanggapi situasi terkini. Ia mengaku sedih dan bingung mengapa situasi di Papua seperti semakin sulit mendapatkan ketenangan.

Padahal ia meyakini Papua adalah tanah injil, tanah perjanjian yang diberkati oleh Tuhan. Namun melihat banyaknya kejadian yang menelan korban jiwa, iapun tertegun. Merasa bahwa Papua tak lagi sama seperti yang dulu. Yang masih mencerminkan tindakan takut akan Tuhan. Setiap waktu selalu saja ada darah yang menetes.

“Sebagai tokoh agama, sebagai pastor saya merasa perlu berbicara. Memberikan nilai dalam ajaran yang saya imani bahwa tindakan kekerasan apalagi sampai mengambil nyawa orang lain yang tak tahu menahu adalah tindakan yang mengambil kewenangan Tuhan. Bukan tugas manusia untuk itu (membunuh),” beber Pastor saat ditemui di Jayapura, Jumat (27/2).

Pastor Jhon mengaku tak menyangka terjadi perubahan yang sangat menyolok dari karakter manusia saat ini. Saat dulu ketika Papua masih gelap, kemudian datang injil, orang-orang sangat patuh dan takut melakukan perbuatan dosa.

Namun saat ini, tindakan untuk melakukan kekerasan terasa sangat ringan tanpa melihat siapa dan bagaimana. Pastor mengingatkan bahwa selama ini ia ikut memperjuangkan hak asasi manusia lewat pelayanan keagamaan.

Memberikan apa yang menjadi hak masyarakat untuk mendapatan pencerahan soal kebaikan injil. Masyarakat juga sama – sama menolak bentuk-bentuk kekerasan terutama kepada warga sipil sehingga tidak ada alasan jika saat ini justru melukai sesama warga sipil apalagi sampai membunuh umat yang tak tahu apa -apa. Membunuh umat yang tak berdosa.

“Saya setuju kita sama-sama menolak yang namanya pelanggaran HAM karena semua memiliki hak yang sama. Tapi jangan justru kita menjadi pelaku lagi kalau sudah sepakat, saya melihat kita terjebak disitu,” imbuhnya.

Pastor lihat dibeberapa kabupaten masih terjadi rentetan kasus kekerasan yang berujung kematian. Iapun mempertanyakan apakah tindakan ini bisa dibenarkan, mengambil kewenangan Tuhan untuk mencabut nyawa seseorang atau seharusnya mampu memilah tindakan apa yang perlu dilakukan.

“Apakah ini dipicu dari perkembangan di Papua yang mengabaikan hak-hak dasar atau semakin sulitnya hidup sehingga terpaksa dilakukan tindakan kekerasan. Kesannya saat ini masyarakat tidak lagi takut membunuh orang, sudah jauh dari era dulu-dulu ketika saya masih keluar masuk hutan,” kenangnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Persiker Keerom Bergabung dengan Juara Sulteng

Wakil Papua, Persiker Keerom bergabung di grup K bersama Celebest FC, Perslotim Lombok Timur dan…

2 hours ago

Cerita Bima Ragil Saat Kembali ke Jombang Usai Bela Persipura

Bima Ragil mengatakan, dirinya hanya berada sekitar dua hari di Jombang sebelum kembali melanjutkan aktivitas…

3 hours ago

BGN Nabire Optimalkan Pelayanan 3B di Triwulan II 2026

Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Papua Tengah, fokus mengoptimalkan pelayanan 3B yang mencakup ibu…

4 hours ago

Dari Kopra hingga Udang Laut, Sarmi Diproyeksi Jadi Kekuatan Ekonomi Pesisir Papua

Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, meminta masyarakat terus mengembangkan potensi lokal, khususnya sektor perkebunan kelapa,…

5 hours ago

Polda Papua Mulai Mitigasi Konflik Horizontal di Woma

Dalam rapat tersebut disepakati sejumlah langkah strategis, di antaranya penambahan personel pengamanan, pelibatan tokoh gereja…

6 hours ago

Penanganan Kasus BBM Subsidi oleh Gapoktan Dipertanyakan

‘’Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Gapoktan tersebut lebih bisa dipertanggung jawabkan ketimbang Pertamini. Pertamini ini…

7 hours ago