

Asosiasi peternak ayam petelur se Tanah Tabi saat berdiskusi bersama untuk turun ke lapangan memberikan sosialisasi kepada pedagang telur Anpu untuk menggunakan produk telur lokal sesuai SE Gubernur Papua, karena sudah swasembada telur lokal di Kotaraja, Kamis (17/7). (foto:Foto/Istimwa)
JAYAPURA-Produksi telur ayam ras di Papua kini telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi ini mendorong Asosiasi Peternak Ayam Petelur se-Tanah Tabi mengajak distributor dan pedagang telur antar pulau (Anpu) mulai mengutamakan telur produksi lokal agar pasar peternak Papua semakin kuat.
Ketua Satgas Asosiasi Peternak Ayam Petelur se-Tanah Tabi, Gatot Sugiantoro, mengatakan saat ini terdapat lebih dari 110 peternak dengan investasi mencapai lebih dari Rp200 miliar. Populasi ayam petelur mencapai sekitar 750 ribu ekor dengan produksi 600 ribu hingga 650 ribu butir telur per hari.
“Produksi tersebut sudah mencukupi kebutuhan masyarakat di Tanah Tabi, bahkan sebagian sudah dipasarkan ke Wamena,” ujarnya, Minggu (19/7/2026).
Selain lebih segar, penggunaan telur lokal juga dinilai mampu menjaga perputaran uang tetap berada di Papua dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Namun di tengah produksi yang melimpah, peternak justru menghadapi penumpukan stok akibat masih tingginya pasokan telur dari luar Papua. Kondisi ini membuat penjualan menurun dan berdampak pada keberlangsungan usaha peternak.
Gatot menjelaskan, Pemerintah Provinsi Papua tidak melarang masuknya telur dari luar daerah. Pemerintah hanya mengatur distribusinya melalui Surat Edaran Gubernur Papua Nomor 500.7/14362/SET Tahun 2023 agar pemasukan telur lebih terkendali dan tidak merugikan peternak lokal.
Melalui kebijakan tersebut, distributor diwajibkan bekerja sama dengan peternak lokal untuk menyerap dan memasarkan telur produksi Papua. Jika ditemukan telur masuk tanpa rekomendasi resmi, pemerintah dapat mengembalikannya ke daerah asal dan melakukan pengawasan bersama Satgas Pangan.
Meski produksi telah mencukupi kebutuhan masyarakat, harga telur lokal masih dipengaruhi tingginya biaya produksi. Sebagian besar bahan baku pakan, obat-obatan, dan vitamin ternak masih didatangkan dari Pulau Jawa sehingga biaya transportasi ikut meningkatkan harga pokok produksi.
Karena itu, peternak berharap pembangunan pabrik pakan di Arso segera beroperasi. Kehadiran pabrik tersebut diharapkan mampu menekan biaya produksi, membuat harga telur lokal lebih kompetitif, sekaligus memperkuat swasembada pangan di Papua.
Sementara itu, pedagang telur di Abepura, H. Asrori, mengaku siap memperbanyak penjualan telur lokal selama harga bersaing, kualitas terjaga, dan pasokan tersedia secara berkelanjutan.
“Kalau kualitas bagus, harga kompetitif, dan pasokan lancar, kami tentu siap mengutamakan telur produksi Papua,” jelasnya.(dil/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Perda ini mewajibkan seluruh bangunan dan fasilitas publik di wilayah Kota Jayapura untuk memasang…
Saat melakukan pemantauan di kawasan Pasar Los Entrop, petugas mencurigai sebuah tempat usaha rental…
Abisai menegaskan bahwa Pemuda Katolik merupakan salah satu pilar penting bagi gereja dan bangsa,…
Suasana haru dan penuh syukur mewarnai pelepasan 103 calon jamaah umrah asal Kota Jayapura yang…
Tak tanggung-tanggung agenda ini sampai melibatkan dua jenderal yang langsung turun ke TKP. Salah satunya…
Mereka dilumpuhkan dalam operasi penegakan hukum di kawasan KM 4 Logpon, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo,…