Categories: NASIONAL

Dugaan Malapraktik, Pasien Miom Kaget Rahim Diangkat Tanpa Izin

JAKARTA — Dunia medis di Kota Medan kembali diguncang isu miring terkait standar pelayanan dan etika profesi. Seorang pasien bernama Mimi Maisyarah (48), warga Jalan Tangguk Bongkar 3, Medan, diduga menjadi korban malapraktik di Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah Medan. Kasus ini mencuat setelah pasien mendapati rahimnya telah diangkat tanpa adanya pemberitahuan maupun persetujuan dari pihak keluarga sebelumnya.

Suasana di depan RS Muhammadiyah yang berlokasi di Jalan Mandala By Pass sempat memanas pada Selasa (21/4). Pasien yang dalam kondisi lemah terlihat sempat terlantar di depan pintu masuk rumah sakit. Kemarahan keluarga pecah karena merasa pihak manajemen rumah sakit terkesan menghindar dan tidak bersedia memberikan penjelasan secara langsung. Lantaran tidak ada pihak RS yang menemui mereka hingga pukul 15.00 WIB, keluarga akhirnya memutuskan membawa pasien pulang menggunakan mobil ambulans milik rumah sakit tersebut dengan perasaan kecewa yang mendalam.

Kuasa hukum pasien, Ojahan Sinurat SH, membeberkan kronologi medis yang dialami kliennya. Berdasarkan keterangannya, rangkaian kejadian bermula pada awal tahun 2026: 13 Januari 2026: Pasien mendapatkan rujukan daring (online) ke RS Muhammadiyah Medan sebagai peserta BPJS Kesehatan. Lalu 24 Januari 2026: Operasi dilakukan oleh oknum dokter berinisial TM. Pasien didiagnosis menderita miom. Pascaoperasi, pasien dirawat selama empat hari. Kemudian 26 Februari 2026: Pasien kembali ke rumah sakit karena luka operasi mengeluarkan nanah dan timbul keluhan kesehatan baru.

Selanjutnya pada 6 Maret 2026: Meski telah diberikan tindakan USG dan obat-obatan, kondisi pasien tak kunjung membaik. Rasa sakit di bagian perut justru semakin intens. Ketidakpuasan terhadap hasil penanganan di RS Muhammadiyah mendorong pasien untuk mencari opini kedua (second opinion) di RSU Haji Medan. Di sinilah fakta mengejutkan mulai terungkap. Setelah melalui pemeriksaan Obgyn dan analisis hasil Patologi Anatomi (PA) yang diminta dari RS sebelumnya, dokter di RSU Haji Medan membacakan hasil yang sangat kontras.

Berdasarkan hasil PA, pasien ternyata tidak dinyatakan mengidap penyakit miom. Yang lebih memilukan, hasil USG terbaru menunjukkan bahwa rahim pasien sudah diangkat sepenuhnya. “Klien kami sangat kaget. Diagnosis awal adalah miom, namun tindakan yang dilakukan adalah pengangkatan rahim (histerektomi). Parahnya, tindakan pengangkatan organ vital ini dilakukan tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan (informed consent) dari pasien maupun keluarganya,” tegas Ojahan Sinurat di hadapan awak media.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Pangkogabwilhan Diminta Evaluasi Sistem Operasi di Papua

Mandenas menilai peristiwa tersebut berpotensi terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Jika korban mencakup perempuan…

8 hours ago

Target Sentuh Atap Langit, Temui Masjid Megah di Tepi Danau

Berada di tapal batas Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dengan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Puncak…

9 hours ago

Hitung-hitungan Dana Otsus Harus Sampai Akhir Tahun

Pelaksana Tugas Kepala Bapperida Papua, Muflih Musaad mengatakan penyusunan usulan dilakukan mengacu pada kriteria penggunaan…

15 hours ago

Pengelolaan Sagu Harus Bisa Berkelanjutan

Menurut Lunanka, penguatan budidaya menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan sagu dalam jangka panjang, sekaligus…

16 hours ago

Papua Lepas 840 Calon Jemaah Haji

Menariknya, Aryoko juga meminta para jamaah untuk mendoakan Provinsi Papua, agar pembangunan di Papua bisa…

17 hours ago

Terapi Baru untuk Kanker Stadium Lanjut Kini Tersedia di Dalam Negeri

“Pendekatan CRS dan HIPEC merupakan terapi yang bersifat definitif pada kasus kanker dengan keterlibatan peritoneal.…

22 hours ago