Di dinding ruangan yang terbuat dari papan ada 5 foto berukuran 10R yang sengaja dicetak. Foto-foto itu menceritakan kebersamaan Imron dan anak-anak Kampung Enggros. Ada juga plat edukasi terkait asal usul Polisi Air, dan himbauan untuk menjaga laut. Di sudut ruangan juga ada pelampung berwarna orange. Hanya ada satu meja dan 4 kursi dalam ruangan. Buku lebih banyak diletakkan di lantai.
Hanya berselang tiga menit sejak pintu dibuka, suasana sunyi perpustakaan pecah. Satu persatu anak mulai berdatangan. Ada yang masih berenang tak jauh dari perpustakaan langsung kembali ke rumah untuk mengganti baju. “Woi Bapak Imron datang, kam (kalian) naik sudah baru kita ke sana,” ucap Karlos, salah satu anak kampung Enggros saat memberitahu teman lainnya.
“Yang lain mana, kenapa hanya kalian saja,” tanya Imron kepada anak-anak untuk memastikan yang lainnya.
“Bapak, yang lain ada pergi main bola jadi,” jawab Karlos. “Iya Bapak, dong sebagian ada pergi main bola,” sambung anak lainnya.
Guru Kedua Anak Kampung Enggros
Waktu itu Imron datang agak kesorean, tanpa informasi sebelumnya sehingga perpustakaan hanya diisi oleh 9 anak. Ada yang masih TK, ada juga yang sudah kelas 1 hingga kelas 5 SD.
Buku-buku mulai dibagikan secara personal, buku gambar untuk yang kecil, buku mengenal huruf untuk yang baru belajar, hingga buku cerita untuk yang sudah lancar membaca.
Anak-anak dibuat dalam satu lingkaran, sementara Imron duduk bersila di tengah-tengah mereka. Tidak ada jarak, tidak ada rasa takut pada seragam polisi yang dikenakan Imron. Interaksi mereka cair, penuh canda, namun tetap tertib.
Dengan ramah, Imron membimbing mereka satu per satu. Ia membantu mengeja huruf demi huruf, menuntun jemari mungil mewarnai gambar, hingga mengajak mereka berhitung. Bagi anak-anak Enggros, Imron adalah “Guru Kedua”. Bahkan mungkin, ia hadir dengan cara yang lebih hangat dari guru di sekolah formal.
“Latar belakang saya juga seorang guru, saya pernah jadi guru pembimbing. Sehingga tahu banyak soal mengajar,” tuturnya.
Melawan Buta Huruf dengan Dana Operasional
Di tengah keriuhan anak-anak yang mewarnai dan mengeja, Imron berkisah bahwa pengabdian ini bukanlah tugas yang datang tiba-tiba. Rutinitas ini telah ia lakoni sejak 3 April 2024, tak lama setelah ia mengemban amanah sebagai Polisi Bhabinkamtibmas di kampung tersebut.
“Awalnya sangat susah mengumpulkan anak-anak, saya harus dari rumah ke rumah. Bagaimana mengajak mereka untuk minat baca. Lambat laun, akhirnya kami sudah punya sekira 30 anak,” ungkap Imron sambil merapikan buku-buku yang ada di lantai.
Koleksi buku di perpustakaan sederhana ini lahir dari ketulusan hatinya. Imron merelakan dana operasionalnya sebagai polisi Bhabinkamtibmas untuk membeli buku-buku itu.
“Waktu itu saya beli di Jogja, dan masih ada yang dipakai sampai saat ini. Saya juga beli buku sesuai permintaan mereka. Saya tanya, mau buku apa? Ada yang bilang buku gambar dan buku tulis,” tuturnya.
Langkah peninjauan langsung ini dilakukan oleh wakil walikota Jayapura itu guna mengevaluasi kualitas pelayanan…
Menurut Rustan, pihaknya meminta kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Perindagkop) dan UKM agar mendukung…
Ketiga tersangka yang diamankan berinisial R alias I (29), N alias A (26), dan M…
Kepolisian Daerah Papua bersama Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Papua meneguhkan komitmen bersama dalam mencegah…
Ketua Baleg DPR RI Dr. Bob Hasan menyatakan komitmennya mendukung pemekaran Provinsi Papua Utara. Ia…
Ya, bisa jadi ini menjadi sejarah dimana Persipura berhasil mencetak 3 gol hanya dalam 7…