Categories: NASIONAL

Deforestasi Indonesia Melonjak Tajam di Tengah Tarik-ulur Data

JAKARTA— Kondisi paru-paru hijau Indonesia tengah berada dalam fase kritis. Sepanjang tahun 2025, angka kehilangan hutan atau deforestasi di tanah air dilaporkan mengalami lonjakan drastis yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru, luas hutan yang raib mencapai ratusan ribu hektare, sebuah fenomena yang menandakan besarnya tekanan industri dan kebijakan terhadap stabilitas ekosistem nasional.

Laporan bertajuk Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 yang dirilis oleh lembaga pemantau lingkungan, Auriga Nusantara, mengungkap fakta yang mencengangkan. Luas hutan yang hilang tercatat mencapai 433.751 hektare. Untuk memberikan gambaran visual bagi publik, angka kehilangan ini setara dengan hampir enam kali lipat luas wilayah DKI Jakarta.

Dibandingkan dengan periode sebelumnya, angka ini menunjukkan lonjakan hingga 66%. Kenaikan yang signifikan ini menjadi sinyal merah bagi komitmen iklim Indonesia di mata internasional, mengingat hutan tropis Indonesia merupakan salah satu penyerap karbon (carbon sink) terbesar di dunia.

Ketua Yayasan Auriga Nusantara, Timer Manurung, menjelaskan bahwa masifnya angka deforestasi ini tidak terjadi secara alami, melainkan didorong oleh kombinasi kebijakan pembangunan dan aktivitas ekstraktif. Beberapa faktor utama yang diidentifikasi meliputi: Ekspansi Perkebunan Sawit: Perluasan lahan untuk komoditas global ini masih menjadi motor utama pembukaan lahan.

Industri Pertambangan: Pemberian izin tambang di kawasan hutan yang terus menggerus tutupan pohon primer. Industri Kayu: Aktivitas penebangan untuk kebutuhan industri perkayuan. Proyek Strategis Nasional (PSN): Berbagai proyek infrastruktur dan pembangunan berskala besar yang memerlukan konversi lahan hutan secara masif. “Berbagai kebijakan pembangunan yang ada saat ini secara langsung maupun tidak langsung turut mendorong laju kehilangan hutan kita,” tegas Timer dalam laporan tersebut.

Menariknya, terdapat perbedaan mencolok dalam angka yang dirilis oleh pihak independen dengan otoritas resmi. Kementerian Kehutanan menyampaikan data yang jauh lebih rendah, yakni sekitar 166.450 hektare untuk periode hingga September 2025. Perbedaan tajam ini—yang mencapai selisih lebih dari 200 ribu hektare—disebabkan oleh perbedaan metodologi penghitungan.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Indentifikasi Jalur Penyelundupan hingga Dugaan Keterlibatan Oknum Petugas

  Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk deteksi dini guna mengantisipasi maraknya upaya penyelundupan barang…

15 hours ago

ABR: Jangan Salah Gunakan Bantuan Pemerintah!

Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., memberikan peringatan keras kepada seluruh aparat kelurahan…

16 hours ago

Fenomena El Nino,  79 Kampung di Dogiyai Terdampak

Ketergantungan warga terhadap pertanian subsisten membuat kerusakan tanaman holtikultura berpotensi mengganggu ketersediaan pangan keluarga

18 hours ago

Jangan Membangun Sebelum Ada Penanganan Pascabencana

  Abisai mengatakan, Pemerintah Kota Jayapura saat ini masih melakukan berbagai upaya dan pembahasan terkait…

19 hours ago

Polisi Tangkap Terduga Pelaku Penipuan Jual Beli Motor

Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan melalui Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean mengatakan,…

20 hours ago

Bupati Jayawijaya: CASN Jangan Buru-buru Ajukan Kredit Setelah Terima SK

Bupati menegaskan jika, mereka baru juga diangkat CASN masih ada langkah selanjutnya yang harus diikuti…

22 hours ago