Lantas apa yang salah dengan kehadiran bangunan pasar itu. Menurut dia, pemerintah terkesan asal bangun pasar itu, tanpa memikirkan faktor kenyamanan para pedagang. Dia menuturkan, Mama Papua, dalam melakukan aktivitas jualannya harus melalui proses panjang sebelum berjualan di lapak dalam pasar tersebut.
Mereka mengambil hasil kebunnya di kebun sendiri, lalu menjualnya. Disini, lanjut dia, ada harapan besar dari mama Papua ini agar barang-barang jualannya yang dipasarkan harus laku cepat. Karena selanjutnya mereka akan kembali ke rumah dan mengurus keluarganya dan begitu selanjutnya setiap hari.
“Mama Papua ini kerja kebun sendiri, bukan penadah atau pengepul yang selalu di pasar. Jadi bagaimana supaya laku cepat, salah satu jalan, mereka harus jualan di depan bergabung dengan pedagang lain. Karena kalau hanya mama Papua yang jualan di dalam, sudah pasti jualanya tidak laku,”ulasnya.
Belum lagi, pengaruh faktor lain yang menyebabkan pasar itu tidak dimanfaatkan. Mulai dari bangunan banyak mengalami kebocoran di atap. Sehingga saat hujan turun, air menggenang bagian dalam lapak jualan. Kemudian yang paling dianggap kurang layak oleh mama Papua adalah ukuran lapak yang sangat kecil, kira-kira luasnya hanya 1,5×2 meter. Ini jelas tidak bisa menampung jualan mama Papua.
Ia menjelaskan, anggaran yang dialokasikan untuk TPP ASN sebesar Rp7,5 miliar, sementara THR mencapai Rp25…
Ketua Bawaslu Papua, Hardin Halidin mengatakan laporan tersebut merupakan bentuk akuntabilitas lembaga pengawas pemilu atas…
Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Matius Pawara, menjelaskan bahwa rumah singgah tersebut disiapkan sebagai tempat…
Juru taktik Persipura, Rahmad Darmawan mengaku puas dengan etos kerja anak asuhnya. Menurutnya, pemusatan latihan…
Karena itu, menurutnya, pelayanan kepada masyarakat harus menjadi fokus utama perusahaan daerah tersebut. “Air bersih…
General Manager Kantor Cabang PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Sentani Jayapura, I Nyoman Noer…