Menurutnya, kegiatan simulasi ini sebenarnya harus terus dan rutin dilakukan, tidak hanya di lingkungan satu sekolah, tetapi lebih luas kepada lingkup sosial yang lainnya. Baik di gereja ataupun di lingkungan RT/RW harus juga dilakukan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jayapura Agustinus Ondi menjelaskan, kegiatan itu merupakan tindak lanjut dari sosialisasi penguatan kapasitas dari forum resiko bencana yang telah terbentuk melalui kegiatan Destana di Kelurahan Hamadi.
“Kegiatan ini untuk peningkatan kapasitas warga sekolah, karena kita tidak tahu bencana itu datangnya kapan,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya berharap ada transfer informasi dari anak-anak kepada orang tuanya di rumah maupun kepada keluarganya tentang kejadian bencana dan cara penanganannya. Dalam simulasi ini, pihaknya mencoba menggambarkan peristiwa yang sesungguhnya di lapangan.
Mulai dari bagaimana sebelum terjadinya bencana, kemudian ketika sirine itu mulai berbunyi yang menandakan ada gempa dan disertai tsunami. Selanjutnya, bagaimana harus dievakuasi ke tenda atau posko darurat yang telah disiapkan oleh BPBD kota Jayapura. (roy/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Menurut Nerlince, sebagai lembaga representasi kultural masyarakat adat Papua, MRP memiliki komitmen kuat untuk melindungi…
Menurutnya, penyelesaian persoalan tanah akan dilakukan secara terpisah namun paralel dengan tahapan relokasi. Ia mencontohkan,…
Lihat saja SPPG baru berjalan setahun terakhir sementara saat ini ada ribuan guru honorer yang…
Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze mengungkapkan, 27,7 ton beras tersebut disalurkan untuk Distrik Waan dengan…
Frederik menjelaskan, secara fisik pembangunan NICU–PICU telah selesai 100 persen. Namun demikian, fasilitas tersebut belum…
Menurut Alex, sejak lama warga di kawasan itu hidup dalam keterbatasa, walaupun wilayah itu berada…