Categories: METROPOLIS

Di Luar Dijaga dan Dirawat Baik, di Papua Justru Diabaikan

JAYAPURA-Salah satu pemuda peserta Program  Indonesia Young Leader Program Nikolas Imbiri berkesempatan melihatan Museum Perang Dunia kedua Auckland Zelandia Baru. Di mana dari hasil kunjungannya tersebut, ia mengaku terkesan dengan adanya benda antik milik orang Papua berupa salinogen baju adat beserta benda budaya lainnya di Museum tersebut yang menurutnya sangat dijaga baik dan dikhususkan.

   Ia mengaku bersyukur  bisa mendapatkan kesempatan mengunjungi Museum Perang Dunia kedua Auckland Zelandia Baru.   “Menariknya adalah saya dan dua adik dari Papua mendapatkan pelayanan khusus secara langsung dari staf museum. Kami diajak melihat space Papua yang menyediakan beberapa aset budaya Papua seperti noken dan koteka serta benda budaya lainnya,”uingkapnya.

  Hal menarik dirinya, saat berkunjung ke museum itu adalah ketika berada di ruangan khusus. Diman ruangan ini tidak bisa diakses masyarakat umum, namun harus melalui permintaan khusus.

  “Di ruangan ini terdapat  aset budaya yang tidak secara langsung dipublish, dan saya temukan sebuah sisir rambut yang ternyata berasal dari Supiori Papua dengan tulisan soepiori is dutch new guinea,” kata Imbiri kepada Cenderawasih Pos, melalui pesan Whats Appnya, Kamis, (22/6).

    Sebagai anak Papua ia mengaku bangga dan senang di mana benda Budaya yang merupakan identitas orang asli Papua terpampang rapi dan dijaga begitu baik. Justu di Papua sendiri seringkali tidak dijaga dan dirawat dengan baik.

  “Senang sekali ternyata mereka mengoleksi benda budaya Papua, cek dan ricek ternyata sisir ini diberikan oleh salah satu orang Belanda yang pernah datang ke pulau Biak. saya mengucapkan terima kasih kepada staf tersebut karena telah ikut merawat budaya Papua, selain itu benda budaya dari Wamena dan daerah lain juga terjaga rapi dan awet,” katanya.

  Sebagai salah satu anak Papua yang mendapat kesempatan untuk melihat hal tersebut ia menyarankan agar pemerintah di Provinsi Papua bersama masyarakat untuk bisa menjaga identitas jati dirinya melalui benda budaya, bahasa daerah, tradisi adat istiadat yang sudah diwariskan oleh nenek moyang yang kadang makin terkikis di kalangan generasi muda Papua.

  “Pemerintah harus melihat bagian ini sebagai bentuk pelestarian budaya aset budaya Papua, karena perubahan era modern yang semakin cepat akan dengan sendirinya memangkas budaya orang Papua dan masyarakat Papua akan kehilangan aset dan jati diri sebagai anak Papua,” katanya, (oel/tri)

newsportal

Recent Posts

Propam Polres Jayawijaya Laksanalan Gaktiplin Usai Apel Pagi

Kegiatan pemeriksaan rutin ini mencakup beberapa sasaran utama sikap tampang dan kerapian Pemeriksaan gampol (seragam…

10 minutes ago

Pelaku Penembakan Rafles Residence Mimika Ditetapkan Tersangka

Penyidikan kasus insiden berdarah di perumahan Rafles Residence, Jalan Irigasi Ujung, Mimika, memasuki babak baru.…

1 hour ago

ASN Yalimo Diminta Kembali ke Daerah Ikuti Upacara HUT ke-81 RI

Wakil Bupati Yalimo, Yan Kirakla, SPd, meminta aparatur sipil negara (ASN) yang saat ini berada…

2 hours ago

Gaji P3K Daerah Akan Dibayarkan Pemerintah Pusat

- Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dapil Papua Selatan, Indrajaya menyebutkan bahwa…

3 hours ago

Banyak yang Terkesima Lihat Sepeda Tua, Ada yang Harganya Mencapai Rp250 Juta

Mereka tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Papua Tengah.  Di setang sepeda, bendera Merah…

4 hours ago

​Selama PKKMB, Uncen Pastikan Tidak Ada Ideologi Lain

  Manajemen kampus menjamin tidak ada toleransi bagi penyusupan paham maupun ideologi yang bertentangan dengan…

5 hours ago