Categories: METROPOLIS

Gubernur Putuskan Pendidikan Profesi Dokter Kembali ke RSUD Jayapura

JAYAPURA–Perjuangan para dokter yang tergabung dalam Komite Koordinasi Pendidikan (Komkordik) RSUD Dok II Jayapura untuk mengembalikan pendidikan profesi dokter (koas) Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (FK Uncen) ke RSUD Dok II akhirnya menemukan titik terang.

Setelah melakukan serangkaian audiensi dengan berbagai pihak, mulai dari Komisi V DPR Papua, Majelis Rakyat Papua (MRP) hingga Rektor Uncen, Komkordik RSUD Dok II pada Kamis (19/2) bertemu langsung dengan Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur disebut telah mengambil keputusan agar pendidikan profesi dokter dikembalikan ke RSUD Dok II Jayapura.

Ketua Komkordik RSUD Dok II, dr. Apter E. Patai, SpOG Subsp. FER, menjelaskan bahwa keputusan tersebut menjadi angin segar setelah hampir dua tahun persoalan ini bergulir tanpa kejelasan.

“Intinya Bapak Gubernur mau kembalikan ke Dok II lagi. Beliau sudah putuskan nanti dikembalikan. Karena di Abepura itu kan kurang, cuma 15 dokter, padahal di Dok II ada 66. Selama ini juga kita berjalan sebagai rumah sakit utama pendidikan,” ungkap dr. Apter usai pertemuan.

Permasalahan ini bermula sejak 2024, ketika Dekan FK Uncen dinilai secara sepihak memindahkan pendidikan profesi dokter dari RSUD Dok II ke RSUD Abepura. Padahal, Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara RSUD Dok II dan FK Uncen terkait pendidikan profesi dokter masih berlaku hingga Mei 2026.

Menurut dr. Apter, pemindahan tersebut dilakukan tanpa komunikasi dan koordinasi dengan Komkordik RSUD Dok II, serta tanpa surat kerja sama baru yang mengatur perpindahan tersebut.

“PKS itu masih berlaku sampai Mei 2026. Tapi sejak 2024 dipindahkan tanpa komunikasi, tanpa koordinasi, dan tanpa surat kerja sama. Itu jelas menyalahi PKS yang sedang berjalan,” tegasnya.

Ia menyebut, berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara internal. Namun, dialog dengan pihak dekanat tidak membuahkan hasil.

“Kami sudah ke Komisi V DPR Papua, sudah ke Rektor, sudah dua kali ke MRP, tapi seperti tabrak tembok. Tidak ada titik temu. Akhirnya kami naik Gubernur, dan beliau memahami persoalan ini,” ujarnya.

Selain aspek administrasi, Komkordik RSUD Dok II juga menyoroti aspek kualitas pendidikan. RSUD Dok II selama ini menjadi rumah sakit utama pendidikan dan telah meluluskan 1.393 dokter. Sementara RSUD Abepura disebut berstatus rumah sakit afiliasi dan belum memiliki pengalaman panjang dalam mendidik dokter koas.

“Teman-teman dokter di Abepura juga bingung, karena mereka tidak pernah mengajar koas sebelumnya. Kita khawatir kompetensi lulusan nanti berbeda, bahkan bisa menurun. Ini yang kita takutkan berdampak pada pelayanan kesehatan masyarakat,” jelas dr. Apter.

Ia menegaskan bahwa pendidikan kedokteran tidak semata-mata persoalan lokasi, tetapi menyangkut standar kompetensi yang pada akhirnya menentukan kualitas pelayanan medis di Papua.

“Kalau kompetensinya menurun, yang dirugikan bukan hanya institusi, tapi masyarakat Papua yang dilayani,” tambahnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Satu anggota KKB Siap Disidangkan

Penyerahan tersangka dan barang bukti tersebut merupakan bagian dari tahapan akhir proses penyidikan sebelum memasuki…

10 hours ago

Seorang Pelajar Tewas Dibunuh Sesama Pelajar Wanita

Polisi sendiri mengetahui adanya kasus pembunuhan ini setelah mendapatkan informasi adanya seseorang dengan menggunakan sepeda…

11 hours ago

Tokoh Agama Sedih, Banyak Kekerasan di Tanah Perjanjian

Padahal ia meyakini Papua adalah tanah injil, tanah perjanjian yang diberkati oleh Tuhan. Namun melihat…

12 hours ago

Gawat! Indonesia Duduki Posisi Kedua Kasus Campak Tertinggi Dunia

Lonjakan kasus campak di Indonesia kembali menjadi sorotan internasional. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)…

16 hours ago

Polri Tetapkan Kurir Sindikat Erwin jadi Tersangka

“Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka Erwin, diperoleh keterangan bahwa yang bersangkutan dalam menjalankan aktivitas peredaran…

17 hours ago

Penarikan Uang Parkir di Otonom Disorot Warga

Salah satu warganet menuliskan bahwa fasilitas di Otonom dibangun menggunakan anggaran negara, bukan milik kelompok…

18 hours ago