

Duta Besar Republik Indonesia untuk Papua Nugini (PNG) Andriana Supandy (kiri) bersama sejumlah pejabat Papua saat pembukaan Border Trade Fair (BTF) 2025 di PLBN Skouw, Kamis (9/10). Hari ini even ini akan berakhir. (Foto/Elfira)
JAYAPURA– Duta Besar Republik Indonesia untuk Papua Nugini (PNG) Andriana Supandy, menyebut pelaksanaan Border Trade Fair (BTF) 2025 menjadi momentum penting memperkuat hubungan perdagangan dan kerja sama antara Indonesia dan PNG.
“Ajang tahunan tersebut sangat terbukti mendorong interaksi ekonomi dan sosial lintas batas,” katanya usai menghadiri pembukaan BTF 2025 di PLBN Skouw, Kota Jayapura, Papua, Kamis (9/10).
Menurut Andriana, di mana hal ini terlihat antusiasme masyarakat dari kedua negara yang datang pada kegiatan tersebut sehingga memberikan perubahan positif.
“Berdasarkan data yang kami himpun di mana volume perdagangan antara Indonesia dan PNG pada 2024 mencapai 385 juta dolar AS di mana angka tersebut tertinggi sepanjang sejarah hubungan dagang kedua negara,” ujarnya.
Dia menjelaskan dengan kerja sama tersebut menunjukkan tingginya potensi yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama di wilayah perbatasan Indonesia khususnya Papua.
“Kegiatan ini sangat produktif dan efisien karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat di kedua negara. Kami memberikan apresiasi dan mendukung penuh agar perekonomian kedua negara bisa lebih terbuka lagi” katanya.
Page: 1 2
Belakangan ini, publik dihadapkan pada sejumlah pertandingan yang memicu tanda tanya, termasuk laga antara Persiba…
ewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Jayapura, menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi di sejumlah…
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan Papua masih menghadapi beban penyakit menular…
Pemerintah Kota Jayapura menegaskan komitmennya dalam memastikan penyaluran Bantuan Pangan Nasional berjalan tepat sasaran dan…
Bupati Jayapura, Yunus Wonda, meminta masyarakat pemilik hak ulayat tidak lagi melakukan aksi pemalangan, terutama…
"Kemarin itu saat pertemuan memang dirasa ada ketidakadilan sebab kita mendapatkan kuota fiskal untuk otsus…