Categories: METROPOLIS

Uncen Mulai Garap Standar Kerjasama dan Institusional Fee

Pembantu Rektor IV, DR Frederik Sokoy memberikan gambaran FGD tentang pedoman kerjasama dan institusional fee yang digelar Uncen di Hotel Front One, Waena, Selasa (8/6). (FOTO: Gamel Cepos)

DR Frederik Sokoy: Jangan Sekedar Buat PKS Namun Tak Jalan

JAYAPURA –  Rektor Universitas Cenderawasih, DR., Ir Apolo Safanpo ST, MT menyampaikan bahwa hingga kini belum ada nilai standar yang bisa  digunakan untuk sebuah kerjasama dan institusional fee yang dilakukan dengan para pihak. Padahal dari kerjasama yang dilakukan sepatutnya pihak perguruan tinggi juga mendapatkan  kontribusi yang dengan sendirinya akan meningkatkan  Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Karenanya Uncen pada Selasa (8/6) menggelar Focus Group  Discussion  tentang penyusunan standart kerjasama. 

 Menurut Rektor perguruan tinggi banyak bekerjasama dengan lembaga pemerintah maupun swasta termasuk NGO dimana mitra kerja ini menggunakan berbagai sumberdaya di perguruan tinggi tak hanya aset tetapi juga sumber daya manusianya. Nah baik aset maupun SDM yang digunakan paling tidak memberi kontribusi bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan PNBP yang dengan sendirinya akan meningkatkan status dari Satker menjadi Badan Layanan Umum (BLU). “Kami ingin ada standart kerjasama dan institusional fee untuk perguruan tinggi  dan bisa diterapkan bagi seluruh perguruan tinggi yang ada di Papua sehingga mendapat acuan bersama,” beber Rektor di sela – sela FGD di Hotel Front One Waena, Selasa (8/6).

 Suzana Wanggai selaku Kepala Perbatasan Provinsi Papua yang menjadi pemateri mengatakan bahwa penerimaan naskah kerjasama menjadi satu bagian penting yang patut diperhatikan sebelum dilakukan persetujuan. Setelah isi naskah diterima barulah ditetapkan. “Jadi   jangan hanya buat PKS hanya yang penting ada tanda tangan dan kelihatan oke karena membangun jejaring dengan pihak lain tapi tidak jalan. Itu harus ditindaklanjuti,”  bebernya. Pembantu Rektor IV Uncen bidang kerjasama, DR Frederik Sokoy menambahkan hal yang mirip dengan Suzana dimana ia menyampaikan bahwa jangan sekedar mencatat banyak melakukan kerjasama namun aplikasinya tidak jalan.

 “Dari MoU dan PKS biasanya PKS yang dinilai apakah program tersebut masih jalan atau mati pelan-pelan. Saya menyebutnya MPP atau bahkan menuju kematian dan 3 tahun terakhir kami coba menggenjot termasuk peluang bekerjasama dengan luar negeri sebab ini bisa menjadi parameter  pemeringkatan,” pungkasnya. (ade/wen)

newsportal

Recent Posts

Komnas HAM Diminta Selidiki Kasus Tiga Warga Sipil

Menurut Anthon, langkah itu penting agar tidak muncul korban-korban sipil lainnya akibat tuduhan sepihak yang…

10 hours ago

Pemkot Siap Tegakkan Perda yang Belum Optimal

Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, menegaskan Pemerintah Kota Jayapura akan mengoptimalkan pelaksanaan sejumlah peraturan…

18 hours ago

Eksploitasi Seksual Jadi Temuan Ditsiber

Kasubdit I Ditresiber Polda Papua, Kompol I Wayan Laba, mengatakan kejahatan siber merupakan segala bentuk…

19 hours ago

Jalur  Utara Papua Jadi Prioritas Konektivitas Daerah

Menurut dia, jika konektivitas darat dan laut berjalan bersamaan maka masyarakat akan memperoleh manfaat yang…

20 hours ago

Transparansi dan Pelayanan Publik di BPN Dinilai Buruk

Wakil Ketua I DPR Kota Jayapura, Max Karubaba, menegaskan bahwa pelayanan pertanahan merupakan hak mendasar…

21 hours ago

Tiga Kali Setubuhi Anak Dibawa Umur, Pria 44 Tahun Diringkus

Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Merauke mengamankan seorang pria berumur 44 tahun berinisial FB atas…

1 day ago