“Pondok Natal ini ditujukan bagi para pemuda dan anak-anak sekolah minggu. Boleh dibuat di pinggir jalan atau di perbukitan, yang penting sekreatif mungkin. Semua akan dinilai,” jelasnya.
Bupati menegaskan bahwa lomba ini tidak dilakukan per jemaat gereja, untuk menghindari potensi penyalahgunaan atau perubahan fungsi pondok menjadi tempat tinggal.
Uniknya, panitia penilai lomba berasal dari kalangan pegawai beragama Islam. Hal ini dilakukan agar penilaian berlangsung secara objektif dan netral.
“Kami memilih juri dari teman-teman muslim agar penilaiannya murni dan tidak memihak. Tahun depan, saat bulan Ramadan, panitianya akan berasal dari teman-teman Nasrani,” pungkasnya. (ana/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Rustan mengatakan, pengelolaan dan optimalisasi PAD Kota Jayapura hingga saat ini masih perlu ditingkatkan.…
Peluncuran ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) untuk membangun Ekosistem Pendidikan Kepemimpinan, Pengelolaan…
Pembukaan PKKMB 2026 diselenggarakan secara hibrida dari Auditorium Uncen. Sebanyak 450 mahasiswa hadir secara…
Mereka masing-masing di antaranya Widi Hartoto, selaku Pemimpin Divisi Corporate Secretary Bank BJB periode 2020-2024;…
Pemerintah menargetkan pendapatan negara di wilayah Papua pada 2026 sebesar Rp6,7 triliun, yang terdiri atas…
Owen membeberkan bahwa mereka sudah menjajaki dua stadion di Jawa Timur. Dan saat ini masih…