“Pondok Natal ini ditujukan bagi para pemuda dan anak-anak sekolah minggu. Boleh dibuat di pinggir jalan atau di perbukitan, yang penting sekreatif mungkin. Semua akan dinilai,” jelasnya.
Bupati menegaskan bahwa lomba ini tidak dilakukan per jemaat gereja, untuk menghindari potensi penyalahgunaan atau perubahan fungsi pondok menjadi tempat tinggal.
Uniknya, panitia penilai lomba berasal dari kalangan pegawai beragama Islam. Hal ini dilakukan agar penilaian berlangsung secara objektif dan netral.
“Kami memilih juri dari teman-teman muslim agar penilaiannya murni dan tidak memihak. Tahun depan, saat bulan Ramadan, panitianya akan berasal dari teman-teman Nasrani,” pungkasnya. (ana/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Setidaknya, sebanyak 218.120 peserta BPJS Kesehatan kategori PBI JK resmi diberhentikan. Informasi inipun ramai…
Hal itu merupakan tindak lanjut atas putusan Komisi Informasi Pusat (KIP) yang mengabulkan seluruh permohonannya…
Kepala Bidang Penempatan dan Pelatihan Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM)…
Lari 5K biasanya membutuhkan sepatu yang mendukung kecepatan dan kenyamanan sekaligus. Saat memilih sepatu, berapa…
Pemalangan terhadap ruang guru SMAN 7 Jayapura tersebut dilakukan oleh Max Abner Ohee, yang diketahui…
Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman menjelaskan, dalam pengungkapan kasus ini, setelah penangkapan salah satu…