“Mereka itu orang tua-orang tua kami. Kami tidak melihat organisasinya, tetapi siapa yang ada di dalamnya. Karena itu, pendekatan kami tetap bersifat persuasif, walaupun dengan sumber daya yang sangat terbatas, terutama dari sisi anggaran,” jelasnya.
Fandi juga menambahkan, pendekatan yang dilakukan bukan sekadar berupa dialog atau sosialisasi, tetapi disertai dengan “sentuhan-sentuhan” kemanusiaan yang lebih menyentuh hati dan emosional para anggotanya.
“Mereka ini masih terdoktrin oleh pemahaman yang lama. Tapi ketika kita hadir dengan ketulusan dan sentuhan yang menyentuh hati, perlahan-lahan mereka mulai membuka diri,” katanya.
Ia mengakui tahun ini belum ada anggaran khusus yang disiapkan untuk mendukung program deradikalisasi dan pembinaan terhadap kelompok tersebut. Namun upaya terus dilakukan secara berkesinambungan, sambil menunggu dukungan anggarannya.
“Dengan keterbatasan ini kami tetap berupaya. Yang penting ada kehadiran pemerintah dan ada sentuhan nyata bagi mereka,” pungkas Fandi.(roy).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Polres Jayapura memastikan akan menindak tegas setiap kasus dugaan intimidasi yang dilakukan oknum sopir taksi…
Ketua DPR Kabupaten Jayapura, Ruddy Bukanaung mengatakan DPRK Kabupaten Jayapura telah menyerahkan sebanyak 35 rekomendasi…
Perayaan HUT Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) ke-76 yang dipusatkan…
Dalam seruan tersebut, KWI menilai situasi sosial di Indonesia menunjukkan adanya luka sosial yang semakin…
Setelah dipalang aktivitas pelayanan Kantor Distrik Sentani untuk sementara dipindahkan ke Kantor Kelurahan Hinekombhe. Hal…
– Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jayapura menyelenggarakan kegiatan Latihan Kepemimpinan Kader (LKK)…