“Mereka itu orang tua-orang tua kami. Kami tidak melihat organisasinya, tetapi siapa yang ada di dalamnya. Karena itu, pendekatan kami tetap bersifat persuasif, walaupun dengan sumber daya yang sangat terbatas, terutama dari sisi anggaran,” jelasnya.
Fandi juga menambahkan, pendekatan yang dilakukan bukan sekadar berupa dialog atau sosialisasi, tetapi disertai dengan “sentuhan-sentuhan” kemanusiaan yang lebih menyentuh hati dan emosional para anggotanya.
“Mereka ini masih terdoktrin oleh pemahaman yang lama. Tapi ketika kita hadir dengan ketulusan dan sentuhan yang menyentuh hati, perlahan-lahan mereka mulai membuka diri,” katanya.
Ia mengakui tahun ini belum ada anggaran khusus yang disiapkan untuk mendukung program deradikalisasi dan pembinaan terhadap kelompok tersebut. Namun upaya terus dilakukan secara berkesinambungan, sambil menunggu dukungan anggarannya.
“Dengan keterbatasan ini kami tetap berupaya. Yang penting ada kehadiran pemerintah dan ada sentuhan nyata bagi mereka,” pungkas Fandi.(roy).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Pengadilan Militer III-19 Jayapura sebagai salah satu penyelenggara peradilan di tingkat pertama mempunyai tugas untuk…
Kepala Kejaksaan Negeri Merauke Dr. Paris Manalu, SH, MH, didampingi Kepala Seksi Pemulihan Aset Arief…
Saat ini, Pemerintah Kota Jayapura telah melantik sebanyak 26 pimpinan OPD sebagai pejabat definitif. Namun…
Plt Kepala PELNI Cabang Merauke Sandi mengungkapkan, KM Tatamailau yang tiba dan sandar di Dermaga…
Untuk itu, Rustan Saru meminta Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jayapura agar segera melakukan evaluasi menyeluruh…
Ketua Panitia Pelaksana Soleman Jambormias didampingi Wakil Ketua dan Sekretaris Panitia kepada wartawan mengungkapkan, Sidang…