“Mereka itu orang tua-orang tua kami. Kami tidak melihat organisasinya, tetapi siapa yang ada di dalamnya. Karena itu, pendekatan kami tetap bersifat persuasif, walaupun dengan sumber daya yang sangat terbatas, terutama dari sisi anggaran,” jelasnya.
Fandi juga menambahkan, pendekatan yang dilakukan bukan sekadar berupa dialog atau sosialisasi, tetapi disertai dengan “sentuhan-sentuhan” kemanusiaan yang lebih menyentuh hati dan emosional para anggotanya.
“Mereka ini masih terdoktrin oleh pemahaman yang lama. Tapi ketika kita hadir dengan ketulusan dan sentuhan yang menyentuh hati, perlahan-lahan mereka mulai membuka diri,” katanya.
Ia mengakui tahun ini belum ada anggaran khusus yang disiapkan untuk mendukung program deradikalisasi dan pembinaan terhadap kelompok tersebut. Namun upaya terus dilakukan secara berkesinambungan, sambil menunggu dukungan anggarannya.
“Dengan keterbatasan ini kami tetap berupaya. Yang penting ada kehadiran pemerintah dan ada sentuhan nyata bagi mereka,” pungkas Fandi.(roy).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Polres Merauke bersama Densus 88 Antiteror memperkuat sinergi dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme dan…
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Marthen Medlama mengatakan data tersebut perlu divalidasi terlebih dahulu untuk…
Pemain senior sekaligus legenda Persipura Jayapura, Boaz Solossa, memberikan dukungan penuh atas langkah klub meminjamkan…
Vice President Corporate Communications PTFI Katri Krisnati mengonfirmasi penghentian sementara arus lalu lintas darat tersebut…
Selain sesak napas, sejumlah korban juga mengeluhkan pusing. Beberapa korban bahkan mengalami tekanan psikologis…
Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan adanya aktivitas yang tidak sesuai dengan izin yang diberikan pemerintah…