“Mereka itu orang tua-orang tua kami. Kami tidak melihat organisasinya, tetapi siapa yang ada di dalamnya. Karena itu, pendekatan kami tetap bersifat persuasif, walaupun dengan sumber daya yang sangat terbatas, terutama dari sisi anggaran,” jelasnya.
Fandi juga menambahkan, pendekatan yang dilakukan bukan sekadar berupa dialog atau sosialisasi, tetapi disertai dengan “sentuhan-sentuhan” kemanusiaan yang lebih menyentuh hati dan emosional para anggotanya.
“Mereka ini masih terdoktrin oleh pemahaman yang lama. Tapi ketika kita hadir dengan ketulusan dan sentuhan yang menyentuh hati, perlahan-lahan mereka mulai membuka diri,” katanya.
Ia mengakui tahun ini belum ada anggaran khusus yang disiapkan untuk mendukung program deradikalisasi dan pembinaan terhadap kelompok tersebut. Namun upaya terus dilakukan secara berkesinambungan, sambil menunggu dukungan anggarannya.
“Dengan keterbatasan ini kami tetap berupaya. Yang penting ada kehadiran pemerintah dan ada sentuhan nyata bagi mereka,” pungkas Fandi.(roy).
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Ia menjelaskan, anggaran yang dialokasikan untuk TPP ASN sebesar Rp7,5 miliar, sementara THR mencapai Rp25…
Ketua Bawaslu Papua, Hardin Halidin mengatakan laporan tersebut merupakan bentuk akuntabilitas lembaga pengawas pemilu atas…
Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura, Matius Pawara, menjelaskan bahwa rumah singgah tersebut disiapkan sebagai tempat…
Juru taktik Persipura, Rahmad Darmawan mengaku puas dengan etos kerja anak asuhnya. Menurutnya, pemusatan latihan…
Karena itu, menurutnya, pelayanan kepada masyarakat harus menjadi fokus utama perusahaan daerah tersebut. “Air bersih…
General Manager Kantor Cabang PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional Sentani Jayapura, I Nyoman Noer…