Categories: MERAUKE

Uskup Mandagi Soroti Kemiskinan, Pendidikan di Kimaam

Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisus Mandagi, MSC

MERAUKE – Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisus Mandagi, MSC menyoroti masalah kemiskinan dan pendidikan, termasuk kesehatan yang dialami oleh masyarakat Kimaam dan Ilyawab, Kabupaten Merauke.

Hal itu diungkapkannya saat memberikan keterangan pers  terkait hasil kunjungan kakoniknya  dalam rangka memberikan Sakramen Krisma ke Kimaam dan Wanam. Uskup Mandagi  melihat bahwa sebenarnya daerah tersebut memiliki kekayaan yang luar biasa, namun masyarakatnya hidup dalam kemiskinan.

‘’Kata miskin sebenarnya relatif. Karena kalau dibilang miskin, masyarakat katakan kami tidak miskin, karena masih bisa makan dan sebagainya. Tapi, membandingkan dengan tempat-tempat lain dengan melihat rumah-rumah mereka, kasihan. Sederhana. Miskin karena tidak ada pendidikan, miskin karena masalah kesehatan dan sebagainya,”bebernya.

Uskup melihat, beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi, pertama, rakyat dimanjakan oleh alam yang kaya itu. Mau cari ikan ada. Kemudian di alam ada keladi, sagu. 

‘’Mereka dimanjakan oleh alam. Itu menurut saya, dan saya melihat hal ini hampir terjadi di seluruh Papua bahkan di seluruh Indonesia. Alam memanjakan  kita sehingga hidup apa adanya,’’ terangnya.

Meski begitu, jelas Uskup Mandagi, masyarakat tetap bahagia ditandai dengan goyang menari saat menyambut kedadatangnya dalam  kunjungan itu, sehingga mengukur dalam kemiskinan agak sulit juga.

‘’Tapi kalau melihat rumah mereka, pakaian mereka,  pendidikan dan kesehatan mereka sangat rendah,’’ jelasnya. Bahkan, ungkap dia, stunting masih banyak diderita warga di kedua wilayah tersebut. Sementara dari sisi pendidikan, Uskup  menilai bahwa ada banyak sekolah yang tidak berjalan baik, karena kekurangan tenaga guru, bahkan banyak guru tinggal di kota.

Dijelaskan bahwa adanya BLT dan dana desa sebenarnya sangat bagus. Namun dengan adanya BLT dan dana desa membuat masyarakat menjadi malas. ‘’Tinggal tunggu BLT dan tidak kerja.

Kebun-kebun itu tidak dikerjakan. Orang bilang, orang Kimaam rajin sekali kerja kebun. Tapi dengan adanya BLT masyarakat jadi pemalas. Ini jadi pertanyaan besar dan harus diperhatikan oleh pemerintah dalam hal ini pengawasan,’’pungkasnya. (ulo/tho)   

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: MERAUKE

Recent Posts

Gencarkan Pemetaan JABI, Masyarakat Diminta Tidak Lepasliarkan Ikan Asing

Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT) Papua memberikan perhatian serius terhadap isu masuknya…

14 hours ago

Tiga Penyakit Mematikan Ancam Warga Papua

Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua menyoroti tingginya ancaman tiga penyakit berbahaya di Papua, yakni malaria,…

18 hours ago

Ratusan Bangunan dan Kendaraan Terbakar

   Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, S.IK saat memimpin pendataan kerugian material…

19 hours ago

17 Tersangka Diproses, 2 Lainnya Diselesaikan Lewat RJ

Selain menetapkan tersangka, aparat kepolisian juga masih merangkum sejumlah laporan polisi yang masuk pasca insiden…

20 hours ago

TNI Bantah Terlibat Ledakan di Halaman Gereja

Peristiwa ini langsung memicu sorotan tajam lantaran terjadi di lingkungan tempat ibadah, sebuah ruang aman…

21 hours ago

Bupati Intan Jaya Minta TNI/Polri dan TPNPB Tidak Korbankan Warga Sipil

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, menegaskan gereja dan masyarakat sipil tidak boleh menjadi sasaran dalam…

22 hours ago