

Mormon Gunawan (43) memasang kelambu untuk 3 ekor ternak sapinya untuk hindari nyamuk dan Wereng, Rabu (17/04) kemarin. ( foto:Ist/Cepos)
MERAUKE– Jumlah ternak sapi yang mati di Merauke dalam 1 bulan terakhir ini tembus 210 ekor. Sementara untuk kambing sebanyak 12 ekor dan kuda 1 ekor. Sedangkan untuk ternak babi mencapai 20 ekor. Penyebab kematian dari ternak sapi, kambing dan kuda di Merauke tersebut masih dapat dikatakan misterius.
Karena dari hasil pemeriksaan Balai Besar Veteriner Maros, yang ditemukan di dalam api-sapi yang mati tersebut baru parasit dengan jenis Trypanosomiasis, Babesiosis, Theileriosis, Paramphistomiasis dan Nematodosis. Sedangkan untuk Babi, sudah dpastikan penyakit Anthraks.
Tim terpadu bersama Otoritas Veteriner Provinsi Papua Selatan mengupdate jumlah kematian hewan ternak Sapi, Babi, Kuda dan Kambing yang mengalami kematian di Kabupaten Merauke semakin meningkat.
Dari hasil laporan Tim Terpadu per tanggal 28 April 2024 jumlah kematian untuk sapi sebanyak 210 ekor, Babi 20 ekor, Kambing sebanyak 12 ekor dan ternak kuda tercatat 1 ekor. Untuk diketahui populasi ternak di Kabupaten Merauke tahun 2023 tercatat jumlah sapi potong sebanyak 44.570 ekor dan Babi 16.245 ekor.
Berdasarkan kronologi kematian ternak ini berawal pada tanggal 24 – 26 Maret 2024, dimana laporan kematian sapi pertama diperoleh dari Bapak Marianus di Tanah Miring.
Kepala Loka Veteriner Jayapura drh. Tri Juwianto mengatakan sesuai Permentan nomor 12 tahun 2023 telah dibentuk Laboratorium loka veteriner Jayapura yang berfungsi melakukan pengamatan dan penyidikan penyakit hewan dan kesehatan masyarakat veteriner di Papua.
” Terkait kasus yang dilaporkan kemarin dan sudah kami terima serta ditindaklanjuti dengan melakukan investigasi adanya kematian ternak di wilayah Kabupaten Merauke dan segera lakukan pengujian cepat dan hasil diagnose sementara yang telah diperoleh pada saat sampel kami terima dilapangan itu disebabkan oleh investasi parasit dari jenis Trypanosomiasis, Babesiosis, Theileriosis, Paramphistomiasis dan Nematodosis, dan selanjutnya kami juga melibatkan dari Balai Besar Veteriner Maros yang diambil sampel pada specimen babi dan dari 10 sampel yang diperoleh terdapat 5 spesimen terindikasi posistif Anthrax,” ungkap drh. Tri Juwianto di Merauke, Senin (29/04/2024).
Page: 1 2
Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk deteksi dini guna mengantisipasi maraknya upaya penyelundupan barang…
Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., memberikan peringatan keras kepada seluruh aparat kelurahan…
Ketergantungan warga terhadap pertanian subsisten membuat kerusakan tanaman holtikultura berpotensi mengganggu ketersediaan pangan keluarga
Abisai mengatakan, Pemerintah Kota Jayapura saat ini masih melakukan berbagai upaya dan pembahasan terkait…
Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan melalui Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Axel Panggabean mengatakan,…
Bupati menegaskan jika, mereka baru juga diangkat CASN masih ada langkah selanjutnya yang harus diikuti…