Categories: FEATURES

Ada Burung Anti Keributan, Ada Monyet Suka Ganggu Anak Kecil

Ia menjelaskan bahwa Cenderawasih adalah burung yang paling anti dengan keributan sehingga kandangnya memang diseting harus berjarak sebab jika tidak maka akan semakin sulit burung berbulu indah ini menyesuaikan sebelum dilepasliarkan. Lalu menyangkut proses perawatan atau biasa disebut habituasi tumbuhan dan satwa dijelaskan Laode bahwa hal tersebut dilakukan berdasarkan hasil identifikasi.

Hewan peliharaan biasanya dihabituasi selama berbulan bulan. Hal itu terjadi karena sudah terlanjur jinak dengan manusia sehingga untuk mengembalikan sifat liarnya butuh proses. Berbeda dengan satwa liar hasil tangkapan alam proses habituasinya bisa satu minggu bahkan 3-4 hari sudah bisa dikembalikan ke alam. “Tapi pada prinsipnya semua hewan itu punya sifat liar,”kata Irianto.

Selain itu untuk melepasliarkan hewan tersebut juga tak bisa sembarangtempat sebab ada beberapa jenis hewan yang memang tidak cocok dengan hawa habitat yang ada di wilayah utara seperti Kota Jayapura, Keerom, Kabupaten Jayapura maupun wilayah lain yang ada dibagian utara tanah Papua.  Beberapa diantaranya seperti Burung Cendrawasih Paradiseae apoda atau Cenderawasih dengan ukuran besar hanya dapat hidup di wilayah selatan, seperti wilayah Merauke, Timika, Asmat, atau wilayah lain di Selatan.

Pun sebaliknya dengan Cendrawasih Minor atau Cenderwasih dengan ukuran kecil hanya bisa hidup diwilayah utara sehingga bisa dilepasliarkan di hutan Cycloop. “Selain itu burung kasuari, kasuari yang memiliki glambir ganda hanya dapat hidup di wilayah selatan sedangkan kasuari dengan glambir tunggal bisa hidup di wilayah utara. Bahkan salah satu satwa yang juga saat ini sedang ditampung di Kandang Transit Jayapura yaitu monyet,” tambah Laode.

Hewan  tersebut justru tidak dapat hidup di habitat Papua pada umumnya. Hal itu diketahui dari hasil didentifikasi tim BKKSDA. Dimana monyet tersebut hanya bisa hidup di wilayah Sulawesi Selatan. Adapun monyet ini merupakan hasil tangkapan BKSDA disekitar Polimak II, Distrik Jayapura Selatan. Laode menceritakan hal tersebut bermula dari adanya laporan masyarakat bahwa monyet tersebut sering menggangu anak-anak di wilayah Polimak.

Sehingga warga setempat melapor ke kandang trasnit. Pihak kandang transit kemudian menangkp lalu dibawa ke Buper.

“Setelah kami cek, monyet ini sepertinya hasil adopasi dari luar Papua. Oleh tuannya dipelihara di Kota Jayapura sejak kecil, akan tetapi dalam proses peliharaannya dilepas liar begitu saja. Dan karena tidak sesuai dengan habitatnya sehingga dia ganas kemudian sering menganggu warga,” sambung Iranto.

Diapun mengatakan secara umum memang wilayah Papua tidak memiiliki hewan endemik seperti monyet. Hal itu terjadi karena faktor alam yang tidak menentu. Monyet yang ada saat sebagian besar hasil adopsi dari luar daerah Papua.

“Pada umumnya Papua tidak punya monyet, jenis apapun,” katanya.

Selain monyet, juga salah satu satwa yang endemik bahkan hampir punah yang habitatnya tidak disembarang tempat. Satwa tersebut adalah ular Sanca Bulan. Ular bulan ini hanya bisa hidup di wilayah selatan Papua seperti daerah Wamena, atau wilayah dengan suhu dingin.

“Kalau di wilayah utara hanya biasa hanya ada ular bodok. Ular ini masih banyak di Papua namun sangat ganas,” katanya. Lebih lanjut dijelaskan selama proses habituasi, hewan maupun tumbuhan tersebut dirawat dengan cara diberikan makan, disuntik bila sakit. Sementara tumbuhan pot- potnya juga dibersihkan dan juga disirami air agar tetap mekar.

Adapun petugas yang merawat satwa maupun tumbuhan tersebut berjumlah 9 orang, itu terdiri dari dokter, perawat, petugas cleaning servis serta tim  kerja lainnya yang telah diploting masing-masing. Hanya saja karena tahun 2023 itu ada penerimaan PPPK lalu semuanya lulus akhirnya saat ini hanya dirinya sendiri yang jaga. “Kalau ada hewan masuk saya biasa panggil dokter umum untuk cek kesehatannya,” bebernya.

Lalu satwa yang paling dominan ditampung  dikatakan berjenis burung. “Burung Kaka Tua dan Burung Nuri. Satwa lainnya seperti Burung Cenderawasih dan Kasuari hanya ditampung jika ada temuan pihak terkait seperti Balai Karantina Hewan, serta instansi terkait dibidang lingkungan,” tambah Laode. Hal lain yang terungkap adalah sebagian besar satwa sitaan ini adalah yang hendak dibawa keluar, biasanya didapat dibandara atau pelabuan laut Jayapura.

“Khusus tumbuhan paling banyak itu taman anggrek, biasanya orang jual keluar daerah,”sambungnya. Dan hasil penelitian tim BKKSDA satwa yang sangat langka di Papua saat ini ada dua jenis yaitu landak dan ular bulan. “Dua satwa tersebut sudah sangat jarang ditemukan di alam liar. Pun juga dengan satwa lainnya seperti Burung Cenderawasih maupun Kasuari,”  bebernya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Regulasi yang Dibuat Harus Lindungi Hak-hak OAP

Wakil Ketua Fraksi NasDem, Albert Meraudje, menegaskan bahwa semangat Otonomi Khusus (Otsus) harus mendarah daging…

17 hours ago

Bangunan yang Rusak Diterjang Gelombang Pasang Bertambah

Dari pantauan media ini, jumlah gazebo yang rusak bertambah. Jika gazebo yang rusak tersebut baru…

17 hours ago

IDI Akui Dokter Spesialis di Papua Masih Kurang

Meski begitu, IDI Papua terus memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dalam kondisi serba kekurangan.…

18 hours ago

Seorang Nelayan Tewas Ditikam di Lokalisasi Km 10

Dijelaskan, kejadian bermula dari kesalahpahaman antara teman korban diduga berinisial RBAY dengan saksi 1 berinisial…

18 hours ago

Enam Pemuda Dibekuk, Disinyalir Anggota Muda KKB

Pertama ada yang menyebut enam pemuda ini sedang mencari kayu bakar di Jl Gunung, Dekai…

19 hours ago

DPO Lima Kasus Curas Diringkus

Kapolres Jayawijaya melalui Kasat Reskrim AKP Sugarda Aditnya, S.T.K, MH membenarkan penangkapan terhadap salah satu…

19 hours ago