

Salah satu TKBM di Pelabuhan Jayapura saat mengangkat barang para penumpang, Kamis (24/9). (foto:Yohana/Cepos)
Perjuangan Ortis Asinggau, Seperempat Abad Bekerja sebagai TKBM di Pelabuhan Jayapura
Tiap kali kapal masuk di Pelabuhan Jayapura, ada harapan bagi puluhan tahun jadi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) mendapatkan rezeki untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Salah satunya Ortis Asinggau, yang sudah 25 tahun menjalani kerja sebagai Pelabuhan Jayapura.
Laporan: Rohana Yohana Wenggi_Jayapura
Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30 WIT, Kamis (24/9). Langit Jayapura masih gelap, Fajar belum benar-benar menyingsing, namun kawasan Pelabuhan Jayapura sudah mulai hidup.
Di sepanjang jalan utama menuju pelabuhan, sejumlah kendaraan datang silih berganti. Di antara suara mesin kendaraan dan aktivitas penumpang, terdengar teriakan para porter atau Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) yang menawarkan jasa mengangkat barang.
“Jasa pikul… jasa pikul. Ada barang kah, kakak? Ada yang mau diangkat? Dek berapa? Bisa kami bantu,” begitu kalimat spontan yang sesekali terdengar dari para porter.
Mereka berdiri di pinggir jalan, memperhatikan setiap kendaraan yang berhenti. Mata mereka mencari penumpang yang membawa koper, kardus, beras, barang elektronik, buah durian, hingga barang pindahan. Berat barang bukan alasan untuk mundur.
Bagi sebagian orang, aktivitas itu mungkin hanya terlihat sebagai pekerjaan mengangkat barang. Namun bagi para porter, setiap barang yang berpindah dari kendaraan ke kapal adalah bagian dari perjuangan untuk membawa uang pulang ke rumah.
Pagi itu, KM Dorolonda dijadwalkan sandar sekitar pukul 06.00 WIT. Dua jam sebelum kapal tiba, para porter sudah memenuhi kawasan pelabuhan. Mereka bersiap menyambut penumpang yang datang maupun yang akan berangkat.
Tidak ada meja kantor. Tidak ada ruangan berpendingin udara. Tempat kerja mereka adalah pelabuhan, jalan, kendaraan dan kapal yang datang silih berganti. Satu per satu barang diangkat ke pundak.
Seorang TKBM bahkan bisa mengangkat beban hingga sekitar 200 kilogram dalam satu kali angkut, meski kemampuan tersebut tentu bergantung pada kondisi barang dan fisik masing-masing pekerja.
Untuk kapal penumpang besar seperti KM Dorolonda, KM Gunung Dempo, KM Ciremai dan KM Labobar, pendapatan seorang porter dalam satu kali kedatangan kapal bisa mencapai sekitar Rp400 ribu hingga Rp600 ribu, tergantung jumlah barang dan jasa angkut yang diperoleh.
Tim yang diturunkan ke Wamena saat ini dari Menko Polhukam, BNPB, Danrem 172/ PWY, PLN…
Kepala BPS Jayawijaya Arther Purmiasa menyatakan Pada Bulan September 2026, terjadi inflasi sebesar 3,28 persen…
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel Adolof Andatu, Amd, Kep, SKM. ketika dikonfirmasi media ini…
Akibat kecelakaan tersebut, satu dari sembilan orang Anak Buah Kapal (ABK) yang berada di atas…
Poster yang beredar luas di media sosial tersebut sempat memicu keresahan warga Timika. Narasi di…
Menurut Pangdam, jika tidak ada perubahan, peresmian akan dilakukan pada 5 Oktober mendatang. Khusus…