Categories: FEATURES

Bukan Cuma tentang Pangan, Tapi Juga Tentang Nilai Adat dan Budaya

   Kader Partai Golkar ini menuturkan, ide ini lahir dari hasil reses di berbagai daerah, mendengarkan keluh kesah rakyat kecil, pelaku usaha, dan akademisi yang menyuarakan keresahan terhadap kondisi ekonomi Papua yang semakin terpuruk.

   Terutama setelah pemekaran DOB, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Papua turun drastis dari belasan triliun menjadi hanya sekitar Rp 2 triliun. Di sisi lain, pemerintah pusat menerapkan kebijakan efisiensi anggaran, menambah beban bagi Papua induk. Dalam situasi inilah, Denny menilai perlu ada langkah inovatif berbasis potensi lokal.

   “Kita kaya akan pangan lokal, di berbagai pasar tradisional, mama mama Papua, menjual berbagai makanan lokal, seperti umbi-umbian, maupun hal lainnya, namun sayangnya selama ini kurang dimanfaatkan,” ujarnya.

  Tidak hanya sekedar tidak dimanfaatkan, ini juga berdampak pada omzet mereka, karena menanggap pangan lokal ini bukan satu-satunya solusi untuk memenuhi kebutuhan pokok. “Akhirnya yang terjadi kian hari padagang pangan lokal di berbagai pasar tradisional makin berkurang, ini tentunya akan menambah beban, mereka dalam memenuhi kebutuhan ekomominya,” kata Deni.

  Jika hal ini terus dibiarkan, maka ekonomi masyarakat akan terus merosot. Tentu jika hal ini terjadi, maka akan berdampak pada pembangunan Papua yang terus melambat. “Kalau kita tidak memikirkan ini dari sekarang, maka ekonomi kita kedepan akan semakin parah,” tandasnya.

   Satu Hari Tanpa Nasi bukan sekadar larangan konsumsi, melainkan ajakan untuk kembali ke akar budaya Papua makanan lokal seperti sagu, kasbi (singkong), dan berbagai umbi-umbian. “Ini bukan cuma tentang pangan, tapi juga tentang nilai adat dan budaya,” tegas Denny.

   Regulasi ini nantinya tidak hanya menyentuh aspek konsumsi, tetapi juga menyasar ketahanan dan ekonomi pangan secara menyeluruh. Raperdasi akan mengatur harga jual pangan lokal melalui peraturan gubernur. Hal ini bertujuan untuk memastikan kestabilan pasar dan keuntungan bagi semua pihak, termasuk para pedagang yang berjualan di pasar tradisional.

  “Nanti kita akan atur sistem penjualannya, misalnya pedagang menyetorkan jualannya di koperasi, nanti dari koperasilah yang akan memasarkan itu kepada masyarakat luas,” jelasnya.

   Denny juga menjelaskan bahwa Raperdasi Satu Hari Tanpa Nasi akan selaras dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam program tersebut, akan diatur hari khusus di mana MBG menggunakan bahan pangan lokal Papua, bukan nasi. Ini bukan hanya soal memenuhi gizi anak-anak, tapi juga memupuk rasa bangga terhadap budaya sendiri.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Perbaikan Fasilitas Layanan Hingga BPJS Jadi Langkah Prioritas

Namun di balik rutinitas itu, tak ada yang menyangka bahwa hari itu akan menjadi berbeda.…

4 days ago

Sebagian Ditampung Kerabat, Seorang Janda Tiga Anak Masih Bingung Cari Tempat

Di depan sebuah masjid di kawasan Kodam, dua perempuan lanjut usia duduk bersandar. Di sekeliling…

4 days ago

RKPD TA 2027 Jayawijaya Mengacu Enam Prioritas Kebijakan Pemerintah

Pj Sekda Kabupaten Jayawijaya Drs. Tinggal Wusono, M.AP menyatakan enam prioritas kebijakan pemerintah kepada peningkatan…

4 days ago

Persipani Jawara Liga 4 Papua Tengah

Pertempuran memperebutkan takhta juara melawan Persipuncak Puncak Cartenz berlangsung sengit sejak menit awal. Kedua tim…

4 days ago

RD Tak Heran Reno Dipanggil Timnas

Pelatih kepala Persipura, Rahmad Darmawan memberikan apresiasi tinggi bagi pemain yang disebut-sebut sebagai masa depan…

5 days ago

Pemkab Biak Optimalkan Ketahanan Pangan Melalui Diversifikasi Komoditi

Pendekatan strategis yang dilakukan oleh pemerintah daerah adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif maupun lahan…

5 days ago