Categories: FEATURES

Kaki Korban Diikat Pemberat, Berpura-pura Ikut Mencari Untuk Mengelabui

Hilangnya Tapasyah sempat membuat geger warga sekitar. Sepekan kemudian, tubuh tanpa kepala dan kaki ditemukan mengambang di perairan Teluk Youtefa. Ini menyusul kasus kematian balita 3,5 tahun di Koya Barat, Aulya. Dua kasus ini membuat warga kota cemas dengan keselamatan anak-anaknya.

Polisi pun tak tinggal diam. Setelah menunggu proses identifikasi jasad dan tes DNA yang memakan waktu, akhirnya semua terjawab. Awalnya, jenazah tanpa kepala ini sudah diduga adalah Tapasya karena hanya bocah SD ini saja yang sempat menghilang dari rumahnya. Namun Polisi meminta untuk publik tidak cepat menyimpulkan karena masih dalam proses identifikasi.

Melalui otopsi dan tes DNA di RS Bhayangkara, kecurigaan masyarakat akhirnya terkonfirmasi. Minggu, 11 Mei 2025, Polresta Jayapura Kota merilis hasil tes dan menyatakan jika jasad tersebut adalah benar Tapasya. Namun penyelidikan tak berhenti sampai di situ. Tim Opsnal Polresta Jayapura Kota bergerak cepat.

Hanya beberapa hari setelah hasil DNA diumumkan, Mu sang ayah tiri ditangkap di kediamannya di Dok IX. Dalam penyidikan, Mu mengakui semua perbuatannya. Ironisnya, apa yang dilakukan pelaku terbilang keji. bagaimana tidak, pelaku membunuh korban dengan cara mencekik hingga mengeluarkan darah dari hidung. Setelah itu, ia memasukkan tubuh mungil itu ke dalam baskom hitam lalu menutupnya dengan sarung.

Setelah itu ia mengingat kaki Tapasya dengan nelon dan dikaitkan dengan pemberat berupa karung berisi batu. Tujuannya agar tubuh ini tetap mengendap di dasar laut. Tapi kehendak Tuhan berbeda. Tubuh ini justru melawan gravitasi dan ngambang di permukaan laut.

“Jadi tubuh korban awalnya dicekik kemudian dimasukkan ke dalam ember dan kakinya diikat dengan pemberat. Ada karung berisi batu,” ungkap Kapolresta Jayapura Kota, AKBP Fredrickus W.A. Maclarimboen dalam konferensi pers.

Ironisnya, setelah membuang jasad korban ke tengah laut sejauh 4,1 mil dari garis pantai, Mu kembali ke rumah dan berpura-pura turut mencari anak tirinya.

Motif dari kejahatan ini juga sepele. Mu mengaku melakukan perbuatan keji itu karena kesal karena sang istri sering pergi, meninggalkan Tapasya dan ketiga anaknya di rumah. Ia merasa terbebani mengasuh anak tiri yang tidak berdosa itu seorang diri. Emosi dan kelelahan mendorongnya untuk memberi peringatan namun justru membunuh anak tiri tertuanya.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Recent Posts

Meski Hakim Terbatas, Namun Tangani Perkara Paling Banyak di Seluruh Indonesia

Pengadilan Militer III-19 Jayapura sebagai salah satu penyelenggara peradilan di tingkat pertama mempunyai tugas untuk…

1 day ago

Kejari Merauke Lelang Sejumlah Barang Rampasan Tindak PIdana Umum

Kepala Kejaksaan Negeri Merauke Dr. Paris Manalu, SH, MH, didampingi Kepala Seksi Pemulihan Aset Arief…

1 day ago

Wali Kota Pastikan Seluruh OPD Definitif Januari Ini

Saat ini, Pemerintah Kota Jayapura telah melantik sebanyak 26 pimpinan OPD sebagai pejabat definitif. Namun…

1 day ago

Penumpang Lebih Banyak yang Berangkat daripada yang Turun di Merauke

Plt Kepala PELNI Cabang Merauke Sandi mengungkapkan, KM Tatamailau yang tiba dan sandar di Dermaga…

1 day ago

ASN Tidak Disiplin, Gaji dan TPP Ditahan

Untuk itu, Rustan Saru meminta Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jayapura agar segera melakukan evaluasi menyeluruh…

1 day ago

Merauke Jadi Tuan Rumah Sidang Musyawarah Pekerja Lengkap PGI

Ketua Panitia Pelaksana Soleman Jambormias didampingi Wakil Ketua dan Sekretaris Panitia kepada wartawan mengungkapkan, Sidang…

1 day ago