“Kami tidak pernah dengar ayahnya marah, kami pun kaget kalau pelakunya itu ayahnya,” tutur warga.
Kini, Tapasya telah pergi untuk selamanya meninggalkan luka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tapi juga masyarakat yang mengenalnya. Ia adalah potret anak perempuan yang luar biasa dewasa sebelum waktunya, penuh tanggung jawab, dan penuh kasih.
Masyarakat Jayapura berduka. Dan mungkin, selamanya akan mengenang Tapasya bukan sebagai korban kekerasan, tetapi sebagai simbol kecil dari ketulusan dan ketangguhan yang tak sempat tumbuh dewasa. Ia juga mewakili generasinya menyentil para orang tua untuk bisa memberikan perhatian yang tulus mengawal pertumbuhan anak tanpa harus tergadai kesibukan pribadi. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Mantan Kapolri dan Kapolda Papua ini mengapresiasi kondisi dan pelayanan RSUD Biak. Ia terkesan dengan…
Pembangunan Sekolah Rakyat yang akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas ini dianggarakan melalui i APBN dengan…
Benhur Tomi Mano, MM (BTM) menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari berdirinya gedung…
PJ Sekda Provinsi Papua Pegunungan Drs. Wasuok Demianus Siep menyatakan untuk jabatan Sekda Papua Pegunungan…
Pantauan di lokasi, sejak pagi ratusan warga mendayung perahu tradisional untuk menjemput speedboat yang ditumpangi…
Gubernur Apolo mengatakan kehadiran asrama diharapkan tidak hanya mendukung proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi…