“Kami tidak pernah dengar ayahnya marah, kami pun kaget kalau pelakunya itu ayahnya,” tutur warga.
Kini, Tapasya telah pergi untuk selamanya meninggalkan luka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tapi juga masyarakat yang mengenalnya. Ia adalah potret anak perempuan yang luar biasa dewasa sebelum waktunya, penuh tanggung jawab, dan penuh kasih.
Masyarakat Jayapura berduka. Dan mungkin, selamanya akan mengenang Tapasya bukan sebagai korban kekerasan, tetapi sebagai simbol kecil dari ketulusan dan ketangguhan yang tak sempat tumbuh dewasa. Ia juga mewakili generasinya menyentil para orang tua untuk bisa memberikan perhatian yang tulus mengawal pertumbuhan anak tanpa harus tergadai kesibukan pribadi. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
epala Suku Wouma Kurima Hamzah Lantipo menyatakan usai konflik pada 15 Mei lalu selanjutnya tak…
Juru Bicara TNPB-OPM, Sebby Sambom, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim pembuat film dokumenter tersebut. Menurutnya,…
Diketahui, sebanyak 17 unit sepeda motor milik warga yang ada di sekitar Pelabuhan Kondap, Kelapa…
Perjalanan menuju Distrik Douw tidak mudah. Dengan menggunakan pesawat perintis dari Sentani, rombongan harus menempuh…
Akibat insiden ini pengendara sepeda motor dinyatakan meninggal dunia. Kasi Humas Polres Mimika, Iptu Hempy…
– Panitia Idul Adha Masjid Agung Baitul Rahman Wamena menyalurkan 13 ekor daging kurban yang…