“Kami tidak pernah dengar ayahnya marah, kami pun kaget kalau pelakunya itu ayahnya,” tutur warga.
Kini, Tapasya telah pergi untuk selamanya meninggalkan luka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tapi juga masyarakat yang mengenalnya. Ia adalah potret anak perempuan yang luar biasa dewasa sebelum waktunya, penuh tanggung jawab, dan penuh kasih.
Masyarakat Jayapura berduka. Dan mungkin, selamanya akan mengenang Tapasya bukan sebagai korban kekerasan, tetapi sebagai simbol kecil dari ketulusan dan ketangguhan yang tak sempat tumbuh dewasa. Ia juga mewakili generasinya menyentil para orang tua untuk bisa memberikan perhatian yang tulus mengawal pertumbuhan anak tanpa harus tergadai kesibukan pribadi. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Kepala Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura, Alberto Alfred Itaar, menjelaskan bahwa penertiban terutama menyasar…
Plt. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Papua, Karsudi mengatakan, peningkatan…
Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Patrige Renwarin, SH, M.Si mempertanyakan kepada semua pihak apa yang…
Ketua Asosiasi Bupati Se Papua Pegunungan Didimus Yahuli, SH, MH menyatakan rapat koordinasi yang dilakukan…
Selain Forkopimda, hadir juga unsur pimpinan DPRK Lanny Jaya, Dinas kesehatan serta sejumlah Organisasi Perangkat…
Presiden Persipura, Owen Rahadiyan, menegaskan target tersebut tetap menjadi prioritas meski timnya belum mendapatkan hasil…