Categories: FEATURES

Tokok Sagu Warisan Budaya, Jati Diri Orang Papua Yang Hampir Dilupakan

Hanya saja, tanpa disadari kebersamaan, tradisi dan budaya seakan-akan tidak bernilai lagi, karena generasi penerus pasti sudah jarang yang tahu dan dapat meneruskan budaya tokok sagu.

Dengan tokok sagu, banyak pesan yang dapat disampaikan oleh orang tua kepada anak, ada tradisi yang diajarkan, ada bahasa daerah yang dinyanyikan, sementara dengan peralihan kepada pengguna mesin, tidak lagi membutuhkan waktu yang panjang, tidak lagi melibatkan banyak orang.

Bahkan kebersamaan yang dulunya terjalin, kini hampir putus karena setiap keluarga, setiap rumah tangga bisa mengerjakan pekerjaannya sendiri, tanpa harus melibatkan keluarga atau masyarakat disekitarnya.

“Hal-hal seperti ini yang mulai hilang, karena orang lebih cenderung memikirkan bagaimana mendapatkan uang dengan cepat, bagaimana dapat memenuhi permintaan pasar, ketimbang meneruskan jadi diri orang Papua kepada anak cucu,” kata Billy lagi.

Bukan hanya itu saja, menurutnya budaya tokok sagu mungkin masih diingat untuk angkatan kelahiran 70-80an, sementara kelahiran berikutnya mungkin hanya tau ceritanya saja.

“Apa lagi generasi milenial pasti hanya tertarik dengan cara-cara tokok sagu demi sebuah konten, tetapi makna dari tokok sagu tradisional sendiri tidak banyak yang mengetahuinya,” jelasnya.

Menurutnya, untuk memperkenalkan dan mengingatkan kembali budaya tokok sagu, hanya bisa dipertunjukkan dalam sebuah event budaya, atau menjual paket-paket wisata yang ditawarkan.

Sedangkan untuk dilakukan seperti dulu, rasanya mustahil, karena hampir tidak semua orang memiliki alat-alat tradisional untuk tokok sagu.

“Kita saja di Kampung Yoboi, untuk mencari alat-alat tradisional, sudah sulit karena lebih banyak alat modern, jadi ketika ada tamu yang pesan untuk paket wisata tokok sagu tradisional, mereka harus pesan dari jauh-jauh hari, agar kami mempersiapkannya terlebih dahulu,” terangnya.

Menurutnya, untuk di Kampung Yoboi sendiri, kebiasaan tokok sagu tradisional sudah sulit dan jarang dilakukan, karena masyarakat lebih memikirkan efisiensi waktu, tenaga dan pastinya lebih cepat dijual.

Ada kemungkinan besar di Daerah Sentani juga demikian, untuk itu dirinya juga mengharapkan agar kedepannya tradisi budaya, jadi diri orang Papua harus terus dilakukan dan diwariskan kepada generasi muda.

“Kita harus hidup saling berdampingan dengan budaya kita, jangan sampai warisan budaya kita, justru dilupakan dengan perkembangan zaman saat ini, meski adanya perubahan, tetapi apa yang menjadi budaya kita harus terus diceritakan dan diwariskan, baik itu melalui pesta budaya, festival atau momen-momen tertentu lainnya,” pungkasnya. (ana)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Gaji P3K Daerah Akan Dibayarkan Pemerintah Pusat

- Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dapil Papua Selatan, Indrajaya menyebutkan bahwa…

7 hours ago

Banyak yang Terkesima Lihat Sepeda Tua, Ada yang Harganya Mencapai Rp250 Juta

Mereka tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Papua Tengah.  Di setang sepeda, bendera Merah…

8 hours ago

​Selama PKKMB, Uncen Pastikan Tidak Ada Ideologi Lain

  Manajemen kampus menjamin tidak ada toleransi bagi penyusupan paham maupun ideologi yang bertentangan dengan…

9 hours ago

Pemprov Papua Dorong ASN Jadi Penggerak Perubahan

   Pesan tersebut disampaikan Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Papua, Suzana Wanggai, saat membacakan…

10 hours ago

Merajut Kerukunan di Tanah Injil, Tokoh Agama Tolikara Bersatu Menjaga Perdamaian

Kerukunan antarumat beragama bukan sekadar slogan, tetapi sebuah tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui…

11 hours ago

Lapas Narkotika Usulkan 450 WBP  Terima Remisi HUT ke-81 RI

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jayapura di Doyo Baru, Kabupaten Jayura telah mengusulkan sebanyak…

12 hours ago