Categories: FEATURES

Perjalanan Panjang Memahami Sejarah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Museum BI

Jarum jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Namun aktivitas pengunjung masih terlihat. Tak sedikit remaja dari berbagai tingkatan sekolah masih terlihat mengantre. Rombongan wartawan dan BI Papua diajak masuk ke ruang sebelah kanan dari lobby. Namanya ruangan transaksi tunai. Patung-patung bertubuh tegap yang sedang melakukan transaksi keuangan. Mereka para kasir dari De Javashe Bank (DJB).

Begitu melangkah masuk, suasana gedung tua langsung berpadu dengan instalasi digital yang canggih. Langit-langit tinggi, marmer mengilap, dan pencahayaan dramatis bikin siapa pun langsung angkat kamera. Yup, spot Instagramable bertebaran di setiap sudut. Tapi daya tarik utama museum ini bukan cuma tampilannya, melainkan cara ia bercerita. Dari era perdagangan kuno hingga krisis moneter dan lahirnya rupiah digital, semua dijabarkan lewat media yang interaktif dan nggak membosankan.

Ada layar sentuh, augmented reality, bahkan ruang teater mini dengan efek suara dan visual imersif seolah kamu lagi nonton sejarah dalam 360 derajat. Anak-anak muda, pelajar, bahkan orang tua pun betah berlama-lama di dalam. Salah satu bagian favorit pengunjung adalah zona “Cyber Museum.” Di sini, kamu bisa belajar jadi “Gubernur Bank Indonesia” versi simulasi.

Seru banget karena kamu bisa coba ngatur kebijakan moneter, mengendalikan inflasi, dan melihat dampaknya ke masyarakat virtual. Serasa main game, tapi isinya ilmu semua. Di ruangan lain, kamu bisa angkat batangan emas asli dan merasakan betapa beratnya “kekayaan” negara yang sesungguhnya. Koleksi uang kuno dari berbagai era dan negara juga jadi magnet tersendiri.

Dari uang koin masa kerajaan Nusantara, uang Jepang saat pendudukan, hingga uang ORI pertama setelah kemerdekaan semuanya tertata apik dalam ruang display dengan pencahayaan keren. Di setiap ruangan menyuguhkan informasi yang bernilai sejarah tinggi. Tidak melulu fokus tentang uang, namun juga sepenggal riwayat perjuangan kemerdekaan. Bahkan kisah pahit krisis moneter tahun 1998 di Indonesia.

“Ibu kota saat itu chaos, kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran meledak,” ujar Nia. Bukan hanya itu, koleksi di museum ini sangat beragam. Di antaranya koin dari era kerajaan Nusantara, uang kertas pertama Oeang Republik Indonesia (ORI) tahun 1946, hingga Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA) yang diterbitkan pada masa revolusi 1947–1950.

Koleksi lain yang menarik adalah Ruang Emas Moneter, tempat dipajang replika emas batangan seberat 13,5 kilogram per batang. Tak ketinggalan, museum juga memamerkan artefak Krisis Moneter 1998, seperti mesin ATM rusak hingga motor bekas dibakar, yang menggambarkan kekacauan ekonomi saat itu. Pada ruangan yang sama, pengunjung juga bisa mengintip lingkaran kaca yang menampilkan visual grafik anjloknya nilai rupiah masa itu.

Page: 1 2 3 4 5

Juna Cepos

Recent Posts

Meski Hakim Terbatas, Namun Tangani Perkara Paling Banyak di Seluruh Indonesia

Pengadilan Militer III-19 Jayapura sebagai salah satu penyelenggara peradilan di tingkat pertama mempunyai tugas untuk…

13 hours ago

Kejari Merauke Lelang Sejumlah Barang Rampasan Tindak PIdana Umum

Kepala Kejaksaan Negeri Merauke Dr. Paris Manalu, SH, MH, didampingi Kepala Seksi Pemulihan Aset Arief…

13 hours ago

Wali Kota Pastikan Seluruh OPD Definitif Januari Ini

Saat ini, Pemerintah Kota Jayapura telah melantik sebanyak 26 pimpinan OPD sebagai pejabat definitif. Namun…

14 hours ago

Penumpang Lebih Banyak yang Berangkat daripada yang Turun di Merauke

Plt Kepala PELNI Cabang Merauke Sandi mengungkapkan, KM Tatamailau yang tiba dan sandar di Dermaga…

14 hours ago

ASN Tidak Disiplin, Gaji dan TPP Ditahan

Untuk itu, Rustan Saru meminta Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jayapura agar segera melakukan evaluasi menyeluruh…

15 hours ago

Merauke Jadi Tuan Rumah Sidang Musyawarah Pekerja Lengkap PGI

Ketua Panitia Pelaksana Soleman Jambormias didampingi Wakil Ketua dan Sekretaris Panitia kepada wartawan mengungkapkan, Sidang…

15 hours ago