Categories: FEATURES

Perjalanan Panjang Memahami Sejarah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Museum BI

“Salah satu dari sekian kendaraan yang rusak pada tahun itu. Mobil juga ada tapi tidak bisa kita gantung disini, terlalu besar,” ujapnya disambut tertawa para jurnalis. Dengan sabar Nia mengatakan bahwa setiap lemari menyimpan cerita, dan setiap cerita membuat kita sadar sistem keuangan bukan cuma soal angka, tapi juga perjalanan bangsa.

Lebih jauh ia menjelaskan sebelum kemerdekaan, masih banyak perjalanan sejarah uang di Indonesia. Sebab sebelum merdeka, republik ini juga melewati penjajahan Jepang. Semasa pendudukan Jepang, semua kebijakan keuangan berubah. Namun nilai Gulden dan Rupiah Hindia Belanda tetap dipertahankan dengan melarang penggunaan mata uang lain. Jepang juga menerbitkan dan mengedarkan mata uang kertas dalam beberapa kali emisi yang disebut uang invasi bertuliskan ‘Pemerintah Dai Nippon’.

Gambar uang kertas mengakomodasi budaya asli Indonesia kala itu. Misalnya wayang orang dan Candi Borobudur pada mata uang kertas 10 Roepiah dan masih banyak lainnya. Bukan hanya itu, koleksi di museum ini sangat beragam. Di antaranya koin dari era kerajaan Nusantara, uang kertas pertama Oeang Republik Indonesia (ORI) tahun 1946, hingga Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA) yang diterbitkan pada masa revolusi 1947–1950.

“Sejak 1947, ORIDA ini terbit antara lain di Provinsi Sumatra, Banten, Tapanuli, dan Banda Aceh. Kalau ORI berlaku di seluruh republik, sedangkan ORIDA hanya di daerah masing-masing,” ujar Nia yang masih setia memberikan penjelasan pada rombongan dari Papua. Melangkah ke lantai dasar terdapat mesin cetak uang dan uang kertas pertama di Indonesia yang kini tersimpan rapih di etalase khusus dengan cahaya lampu yang telah diatur sedemikian rupa.

Koleksi lain yang menarik adalah Ruang Emas Moneter, tempat dipajang replika emas batangan seberat 13,5 kilogram per batang. Tak ketinggalan, museum juga memamerkan artefak Krisis Moneter 1998, seperti mesin ATM rusak hingga motor bekas dibakar, yang menggambarkan kekacauan ekonomi saat itu.

Dalam penelusurannya, semua hal tentang sistem keuangan tersaji di lokasi tersebut. Bukan hanya tentang perjalanan panjangnya saja, namun penjelasan tentang bangunan yang dulunya De Javasche Bank dan saat ini mejadi Museum BI dirincikan secara detail dan mewah. Sejumlah ornamen tiang penyangga maupun dinding hasil arsitektur sang maestro Eduard Cuypers, memiliki makna tersembunyi.

Seperti halnya, motif hias bunga convolvulus dengan kelopak-kelopak ikal di ujungnya yang memiliki arti, yakni bunga convolvulus melambangkan kerendahan hati. Hiasan bunga diapit oleh volute atau gulungan berbentuk huruf S yang saling membelakangi. Pak Andi pemandu lain Museum BI juga menunjukkan sejumlah patung yang memperlihatkan bagaimana suasana jaman dulu gedung tersebut beroperasi dan menjadi sejarah panjang perjalanan dunia keuangan.

Page: 1 2 3 4 5

Juna Cepos

Recent Posts

Harga Minyak Tanah Bersubsidi di Pengecer Semakin Tak Masuk Akal

arga penjualan minyak tanah (Mitan) bersubsidi di tingkat pengecer pada pasaran Wamena semakin meninggi. Sebab…

19 hours ago

Dua Bersaudara jadi Korban Curas di Kampung Tulem

Aksi pencurian dengan kekerasan kembali terjadi di Jayawijaya kembali terjadi. Kali ini tepatnya di Kampung…

20 hours ago

Rumah Sakit Pengampu Nasional dan Regional Cek Langsung RSUD Merauke

Saat di RSUD Merauke tersebut, para direktur utama rumah sakit tersebut didampingi Kepala Dinas Kesehatan…

22 hours ago

Mimika Diterjang Hujan Lebat dan Angin Kencang

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan BMKG, sejak pukul 13.00 WIT, hujan dengan intensitas sedang hingga…

23 hours ago

Belasan OPD Absen, Wali Kota Beri Sinyal Ganti

Tak hanya di tingkat OPD, rendahnya partisipasi juga terjadi di jajaran wilayah. Dari lima kepala…

24 hours ago

11 SPPG Masih Dibekukan, Program MBG Macet?

Penangguhan ini memicu kekhawatiran atas keberlangsungan distribusi nutrisi bagi masyarakat di wilayah tersebut. Krisis operasional…

1 day ago