Categories: FEATURES

Putuskan Rantai Komsumsi Obat Kimia, Fokus Rehabilitasi Berbasis Minat Pasien

  Bagi Direktur RSJ Abepura, dr. Edyson ML Gaol, fenomena ketimpangan angka ini menyingkap sebuah tabir realitas sosial yang amat mendalam: mayoritas penyintas gangguan kejiwaan di daerah ini sejatinya tidak hanya sedang bertarung melawan gangguan klinis, melainkan juga memikul beban hidup yang amat berat akibat keterpurukan ekonomi.

  “Rata-rata pasien yang datang ke sini adalah masyarakat usia produktif yang masih menganggur dan kehilangan mata pencaharian. Ketika peluang kerja sangat terbatas dan beban hidup terus mendesak, muncul rasa tidak berdaya yang luar biasa untuk sekadar bertahan hidup, hingga akhirnya akumulasi kecemasan itu berujung pada kondisi stres berat,” ungkap dr. Edyson saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (9/9).

   Menurut penjelasannya, tingginya stigma di tengah masyarakat yang masih memandang pekerjaan formal  sebagai satu-satunya parameter kesuksesan kerap menjadi pemicu utama mental seseorang ambruk. Padahal, jika ditinjau dari kacamata medis, potensi pemulihan para pasien di RSJ Abepura tergolong sangat besar dan menjanjikan.

  “Sekitar 80 persen dari total pasien sebenarnya masih memiliki kontak realitas yang sangat baik dan pikiran mereka masih jernih. Mereka pada dasarnya hanya memerlukan bimbingan, arahan, serta dorongan moral pada 20 persen sisanya agar mampu bangkit dari keterpurukan dan kembali hidup mandiri secara bermartabat di tengah masyarakat,” tambahnya dengan raut wajah optimistis.

  Demi memutus mata rantai ketergantungan yang panjang terhadap konsumsi obat-obatan kimia, manajemen RSJ Abepura kini bersiap mengalihkan fokus pelayanan medis menuju program rehabilitasi berbasis minat yang terintegrasi di area relokasi khusus.

   Di atas lahan pelatihan yang disiapkan, para pasien tidak lagi diposisikan sebagai subjek pasif yang hanya menerima suntikan obat dan terapi psikologis standar, melainkan dibekali secara intensif dengan pelbagai keterampilan praktis yang adaptif seperti teknik bertani modern, peternakan skala kecil, hingga budidaya ikan air tawar.

   “Lewat pembekalan keterampilan vokasional ini, para pasien diharapkan tidak hanya pulih secara mental dan emosional, tetapi juga memiliki rasa percaya diri untuk menciptakan peluang lapangan kerja sendiri. Langkah ini sekaligus menjadi jawaban konkrit untuk menepis pandangan keliru masyarakat luas mengenai nilai serta keagungan dari pekerjaan informal,” tegas dr. Edyson menjelaskan visi jangka panjang program rehabilitasi tersebut.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Tokoh Agama Papua Padukan Langkah Demi Kemanusiaan dan Perdamaian

   Keberagaman ini menurutnya harus dipelihara sebagai modal dasar untuk membangun tatanan sosial yang adil…

3 hours ago

13 Tahun Melayani Sebagai Sopir Justru Berakhir Tragis

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, mengatakan kasus tersebut bermula ketika korban…

4 hours ago

Revitalisasi Penyidikan  29 Proyek Revitalisdasi  Unmus Terus Berjalan

Kejaksaan Negeri (Kejari) Merauke masih terus mendalami dugaan tindak pidana korupsi dalam program revitalisasi Universitas…

4 hours ago

Seharian Duduk di Depan Laptop? Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu

“Sebentar lagi selesai.” Kalimat ini mungkin sering muncul saat sedang mengerjakan tugas atau mengejar deadline.…

5 hours ago

Elay Giban Resmi Jabat Sekda Definitif Papua Pegunungan

Usai melalui beberapa tahapan test yang dilakukan dari oleh pansel dan BKN, akhirnya Gubernur Papua…

5 hours ago

Bahasa Inggris Ciri Utama Pembelajaran Termasuk Bercerita dan Interaksi dengan Lingkungan

Selama ratusan bahkan ribuan tahun, bumi dan laut telah menghidupi miliaran manusia.  Lebih dari 17…

6 hours ago