“Restu itu penting agar tak ada celaka,” jelasnya. Bagi Akbar, salah satu pemain yang sudah enam kali ikut atraksi ini di Jayapura, setiap pukulan memang menyakitkan. Tapi rasa bangganya jauh mengalahkan rasa sakit itu. “Sakit pasti, tapi ini kebanggaan saya sebagai anak Kampung Morela. Karena pertunjukan ini bagian dari identitas saya,” tuturnya.
Usai pertunjukan, luka-luka mereka tak diobati dengan salep atau antiseptik modern. Hanya getah pohon jarak yang dioleskan sesaat setelah atraksi, selebihnya tubuh dibiarkan sembuh dengan sendirinya. “Dalam seminggu, luka-luka ini akan hilang dengan sendirinya,” jelas Akbar.
Iapun menjelaskan atraksi Pukul Manyapu tak membatasi usia. Anak-anak tampil di pagi hari, sementara orang dewasa beraksi saat senja. “Tidak ada batasan usia, karena memang ini merupakan tradisi sebagai bentuk ucapan syukur atas kemenangan dibulan suci ramadan,” tuturnya. Ketua Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) Papua, Christian Sohilait, menyampaikan pertunjukan ini menjadi magnet bagi warga sekitar. Bukan hanya warga Maluku, tapi juga masyarakat lintas daerah dan budaya yang datang untuk menyaksikan keberanian dan keteguhan para pewaris budaya ini.
“Tradisi ini bukan hanya hiburan. Ini merupakan bentuk edukasi bagi generasi muda, agar mereka tak lupa pada jati dirinya,” ucap Christian. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Pukul Manyapu hadir sebagai penegas bahwa budaya bukanlah masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan akar yang terus menghidupi. Di tanah rantau, di bawah langit Jayapura, bara tradisi itu tetap menyala.
Ia adalah saksi bisu keberanian, solidaritas, dan penghormatan pada sejarah. Dan selama masih ada generasi yang bersedia memikul warisan itu, Pukul Manyapu tak akan padam. “Tradisi ini akan terus hidup, menyalakan semangat dan mengingatkan kita semua, bahwa budaya adalah rumah yang tak pernah jauh dari hati,” pungkasnya. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Pelarangan pemutaran film Pesta Babi di sejumlah daerah dan lingkungan kampus menuai kritik dari kalangan…
Timika dipilih menjadi tuan rumah, menggeser dominasi ibu kota provinsi berkat kelengkapan fasilitas publiknya. Ajang…
ndoafi Kampung Bambar, Distrik Waibu yang juga Ketua Dewan Adat Suku Sentani (DASS), Orgenes Kaway…
Plt Kepala Dinas Kominfo Jayawijaya Imanuel Medlama, S.STP, M.Si menyatakan pemanfaatan hak tayang layanan Informasi…
Menurutnya, sinergi ini menjadi kunci agar kabupaten yang lebih maju dapat menopang daerah yang masih…
Pungutan terhadap tarif sampah yang digagas oleh pemerintah Kabupaten Jayawijaya sebesar Rp 30.000 per bulan,…