Categories: FEATURES

Anggaran Perawatan Tidak Jelas, Kondisi Menjadi Memprihatinkan

  “Semenjak ganti Kepala Dinas baru ini, sudah tidak ada uang pembersihan, bahkan alat pembabat rumputpun tidak ada,” ujarnya saat ditemui Cendrawasih Pos di Tugu Pendaratan Jepang, Kamis (2/5) pekan kemarin

   Padahal lanjutnya tahun anggaran sebelumnya, selalu ada anggaran untuk pengelolahan cagar budaya khususnya Tugu Pendaratan Jepang. Namun karena tidak adanya ABPD 2024 ini, diapun harus merogoh kantong pribadinya untuk merawat Tugu tersebut.

   “Tidak ada uang dari Dinas, terpaksa saya pakai uang sendiri, tapikan tidak mungkin semuanya saya kerjakan pakai uang pribadi, kalau mau tugu ini terawat,” tegasnya.

Diceritakan bahwa dirinya bekerja menjaga Tugu Pendaratan Jepang sejak tahun 1993 sampai sekarang. Dari tahun 1983 itu dia bekerja dengan status honorer hingga tahun 2007 silam barulah diangkat menjadi pegawai ASN.

   “SK PNS saya baru diterbitkan 2007, sampai sekarang,” ungkapnya.

Dikatakan untuk upahnya sendiri cukup terjamin, hanya saja biaya pengelolahan tugu tersebut sama sekali tidak dianggarkan pada APBD 2024 ini, sehingga diapun kewalahan dalam mengelolah tugu tersebut.

    Dengan kondisi yang tidak terawatt, diakui Hana,  minat pengunjung menjadi berkurang. Bagaimana tidak dengan kondisi seperti itu diapun juga tidak menginginkan pengunjung datang melihat kondisi Tugu yang tidak terawat seperti itu.

  “Karena tidak ada mesin babat rumput, jadi saya tutup saja, daripada orang datang lalu melihat Tugu ini tidak terawat jadinya kita yang malu,” tuturnya.

   Padahal selama ini kata dia, pengunjung cukup banyak mendatangi Tugu tersebut, terutama pelajar yang ingin melakukan penelitian. Namun karena kondisinya tidak terawat diapun memilih tutup gerbang daripada tugu tersebut.

   “Bahkan batu nisan dari penjajah Jepang ada yang hilang dicuri orang mabuk, sangat sedih sekali, tidak tau kenapa tidak dianggarkan lagi,” ucapnya.

   Diapun mengharapkan pemerintah khususnya Dibudpar Papua dapat melihat langsung kondisi Tugu tersebut sehingga menjadi bahan koreksi khususnya dalam hal anggaran.

“Saya harap anggaranya harus diadakan lagi, biar kita juga bisa kerja, paling tidak mesin pembabat rumput saja dulu,” harapnya.  (*/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Jalur  Utara Papua Jadi Prioritas Konektivitas Daerah

Menurut dia, jika konektivitas darat dan laut berjalan bersamaan maka masyarakat akan memperoleh manfaat yang…

2 days ago

Transparansi dan Pelayanan Publik di BPN Dinilai Buruk

Wakil Ketua I DPR Kota Jayapura, Max Karubaba, menegaskan bahwa pelayanan pertanahan merupakan hak mendasar…

2 days ago

Tiga Kali Setubuhi Anak Dibawa Umur, Pria 44 Tahun Diringkus

Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Merauke mengamankan seorang pria berumur 44 tahun berinisial FB atas…

2 days ago

Sertifikasi Pramusaji, Perkuat Kompetensi SDM Pariwisata 

  Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, melalui Staf Ahli Wali Kota, Sem Stenly Merauje,…

2 days ago

Dipicu Masalah Asmara, Dua Kelompok Warga di Merauke Saling Serang

Kapolres Merauke AKBP Leonardo Yoga, SIK, dikonfirmasi menjelaskan, peristiwa bermula ketika seorang pria diduga melakukan…

2 days ago

Lautan Batu Apung Kepung Pantai Hamadi

Pemandangan elok pesisir Pantai Hamadi, Kota Jayapura, kini tertutup oleh fenomena material laut dan limbah…

2 days ago