Categories: FEATURES

Nggam Bu, Pesona Air Biru yang Dijaga Masyarakat Adat

Melihat Pesona Kali Biru di Kampung Berab, Dari Rakit Bambu hingga Cerita Leluhur

Berjarak sekitar dua jam dari Abepura, Kota Jayapura. Tempat Wisata Nggam Bu perlahan mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Lantas seperti apa lokasi wisata yang dijuluki Kali Biru tersebut ?

Laporan: Elfira-Kabupaten Jayapura

Airnya sebening kaca dengan gradasi biru kehijauan. Dasar sungai tidak terlihat jelas, sementara pepohonan rindang di sekelilingnya menghadirkan kesejukan yang sulit ditemukan di perkotaan. Suara gemericik air berpadu dengan kicau burung menjadi musik alam yang menyambut setiap orang yang datang.

Itulah Nggam Bu, sebuah destinasi wisata alam di Kampung Berab, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, yang perlahan mulai dikenal wisatawan karena keindahan sekaligus cerita yang menyertainya.

Perjalanan menuju lokasi tidak singkat. Dari Abepura, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 86 kilometer atau lebih dari dua jam perjalanan darat. Setelah tiba di Jalan Poros Berab-Demta, perjalanan dilanjutkan dengan masuk menggunakan kendaraan sekitar 120 meter menuju tepian sungai.

Bagi masyarakat setempat, tempat ini bukan sekadar objek wisata. Mereka menyebutnya Nggam Bu, bukan Kali Biru.

Pengelola wisata, Simon, mengatakan nama tersebut sengaja dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap bahasa dan budaya masyarakat adat. “Nggam berarti Kali Biru, sedangkan ‘Bu’ berarti air. Kami ingin nama asli ini tetap dikenal, terutama oleh anak-anak kami agar mereka tidak melupakan bahasa leluhur,” katanya, kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (25/7).

Keinginan mempertahankan nama asli menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya di tengah berkembangnya sektor pariwisata. Berbeda dengan banyak objek wisata yang dikelola perusahaan, Nggam Bu tumbuh dari semangat kebersamaan masyarakat adat.

Kata Simon, kawasan wisata ini dikelola melalui badan usaha milik masyarakat adat dengan sistem komunal. Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas wisata dinikmati bersama oleh marga-marga pemilik hak ulayat di kawasan tersebut.

Bagi warga Kampung Berab, wisata bukan hanya soal mendatangkan pengunjung, tetapi juga menjadi cara menjaga tanah warisan leluhur. “Semua dikelola bersama sehingga manfaatnya juga dirasakan bersama,” ujar Simon yang ditemui di lokasi.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Pemprov Papua Siapkan Mudik Gratis Nataru

   Selain program mudik gratis, Mathius mengatakan Pemprov Papua juga menyiapkan subsidi transportasi laut sebagai…

13 hours ago

Presiden Harus Bersikap Setelah Gereja Beri Sinyal

Komisi 1 DPR Papua menilai langkah sejumlah denominasi gereja di Tanah Papua yang membentuk wadah…

14 hours ago

Bangunan Pasar di Perbatasan RI-PNG Mulai Rusak, PAD Tak Maksimal

   Menurutnya, pasar dengan sekitar 200 kios tersebut memiliki potensi ekonomi besar. Ia mendapat informasi…

14 hours ago

Prabowo Persilakan KPK Periksa Menterinya

Presiden Prabowo Subianto memastikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat mengusut hingga melakukan penindakan terhadap menteri…

15 hours ago

Selesaikan Konflik, Pimpinan Daerah Diminta Rangkul Semua Pihak

Menurutnya, dengan lahirnya undang-undang nomor 15 Tahun 2022 terkait dengan DOB semestinya Gubernur pimpin barisan…

15 hours ago

Uncen Berduka, Jangan Ada Palang Memalang

Suasana duka yang lagi menyelimuti Universitas Cenderawasih haruslah tercermin dari sikap dan perbuatan. Apalagi yang…

16 hours ago