Categories: EKONOMI BISNIS

Meski Harga Melonjak, Emas Tetap Jadi Pilihan Investasi

JAYAPURA-Kenaikan harga emas Antam yang signifikan kerap dimanfaatkan oleh pelaku pasar tertentu untuk memainkan harga di tingkat konsumen. Meski demikian, minat masyarakat terhadap emas Antam tetap tinggi, meskipun harganya terus mengalami kenaikan.

Menurut, Pengamat Ekonomi sekaligus Dosen Tetap Pasca Sarjana Prodi Magister Manajemen STIE Port Numbay Jayapura John Agustinus mengungkapkan, meroketnya harga emas berkaitan erat dengan memudarnya kepercayaan masyarakat dunia terhadap instrumen keuangan konvensional.

Pasar logam mulia domestik dikejutkan dengan lonjakan harga emas yang sangat signifikan sejak perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Persero) atau harga emas antam mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan kenaikan sebesar Rp 165.000, yang membuat harganya kini bertengger di level Rp3.168.000 per gram.

Meskipun harga emas terus menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa bulan terakhir, minat masyarakat untuk membeli emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun logam mulia tidak surut. Bahkan, beberapa toko emas melaporkan peningkatan permintaan, terutama menjelang momen-momen penting seperti pernikahan, Imlek, dan hari raya.

“Emas memang dikenal sebagai aset yang cenderung stabil dan nilainya terus meningkat dalam jangka panjang. Namun, membeli emas saat harganya naik tanpa perencanaan justru bisa berisiko jika masyarakat tidak memahami tren pasar,”ungkapnya, Selasa (3/2).

Diakui, ada kalanya harga emas mengalami koreksi setelah kenaikan tajam, dan hal ini bisa membuat investor merasa rugi.

Agar masyarakat bisa lebih bijak dalam berinvestasi, kebiasaan membeli emas saat harga naik bisa berisiko, dan bagaimana cara mengubahnya menjadi strategi investasi yang lebih menguntungkan.

Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia yang cukup sering terjadi adalah baru tertarik membeli emas ketika harganya sedang melonjak. Padahal, inilah momen paling rentan untuk membuat keputusan impulsif. Membeli emas saat harganya naik biasanya muncul karena dorongan emosional takut tertinggal peluang, melihat orang lain untung, atau karena tren media sosial yang ramai membicarakan emas.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Atasi Ketimpangan Layanan Medis, Dokter dan Perawat Papua Harus Perkuat Skill

Papua Surgical Update (PSU) 2026 ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari dokter spesialis,…

13 hours ago

Pasca Penertiban, Pemkot Didesak Data Ulang Pedagang

Pares menyatakan, Komisi C secara penuh mendukung langkah tegas Pemkot Jayapura dalam menertibkan area pasar.…

20 hours ago

Terindikasi Melanggar, Ribuan Barcode BBM Bersubsidi Diblokir

   Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua dan Maluku Ispiani…

21 hours ago

Pemilihan Rektor Uncen Jadi Agenda Prioritas

   Untuk memastikan roda organisasi dan pelayanan akademik tidak terhenti, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan…

22 hours ago

Gubernur: Layanan Pertanahan Harus Menjangkau Pelosok!

Gubernur Papua Matius D. Fakhiri mendorong pelayanan pertanahan dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah pelosok melalui…

23 hours ago

Manfaatkan Dana Kampung untuk Kembangkan Potensi Lokal

  Abisai menilai, kearifan lokal dan berbagai potensi yang dimiliki setiap kampung merupakan kekayaan yang…

1 day ago