

Ratusan dokter dan tenaga perawat saat mengikuti kegiatan Papua Surgical Update (PSU) 2026 yang diisi dengan workshop dan Simposium Bedah di Suni Hotel Abepura, Sabtu (26/9). (foto:Jimi/Cepos)
Yang Terungkap dari Ajang Papua Surgical Update (PSU) 2026
Ketimpangan pelayanan kesehatan dan sulitnya akses geografis di Tanah Papua menjadi tantangan nyata yang dihadapi para tenaga medis. Menjawab tantangan tersebut, perhimpunan dokter dan tenaga kesehatan di Papua menggelar ajang Papua Surgical Update (PSU) 2026 yang berisikan rangkaian Workshop dan Simposium Bedah di Suni Hotel, Jayapura, Sabtu (26/9).
Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura
Papua Surgical Update (PSU) 2026 ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, hingga perawat yang berasal dari lingkungan Pemerintah Provinsi Papua serta lima Daerah Otonom Baru (DOB), yakni Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya.
Ketua Panitia Papua Surgical Update (PSU) 2026, Dr. Jan Frits Siauta, Sp.B, Subsp.Onk (K), menjelaskan bahwa acara PSU kedua ini diinisiasi untuk mengatasi persoalan keterbatasan dan ketidakmerataan distribusi tenaga spesialis bedah di wilayah Papua.
“Di Papua ini kan secara geografis sulit sekali, akses ke mana-mana terbatas, dan distribusi tenaga kesehatan belum merata. Akibatnya pelayanan bedah jadi timpang. Melalui workshop dan simposium ini, kita berusaha berbagi ilmu dan skill dengan tenaga kesehatan yang bertugas di daerah-daerah sulit demi meningkatkan mutu serta jangkauan pelayanan,” ujar Dr. Jan Frits.
Lebih lanjut, Dr. Jan Frits menekankan pentingnya membekali para dokter umum, perawat, dan bidan yang berada di lini terdepan pelayanan kesehatan. Menurutnya, tenaga medis di daerah adalah orang pertama yang menemukan dan berinteraksi langsung dengan pasien.
Karena itu ia berharap melalui pelatihan ini, para tenaga medis diajarkan cara melakukan stabilisasi kondisi pasien dan teknik penyiapan rujukan yang benar agar cedera pasien tidak bertambah parah saat dalam perjalanan rujukan.
“Jika dokter umum dan perawat di daerah memiliki pemahaman dasar bedah yang cukup, mereka bisa dengan cepat menilai apakah suatu kasus dapat ditangani di tempat atau harus segera dirujuk. Paling krusial adalah tindakan darurat (emergency),” jelasnya.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani sebelumnya menjelaskan, pemenuhan ratusan…
Anggota Komisi II DPRP dari Daerah Pemilihan (Dapil) Biak Numfor dan Supiori, Johanes Wakum, menyatakan…
Jika betul tak masuk skema Persipura maka bisa dibilang Muller adalah orang kedua yang didepak…
Akademisi Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Cenderawasih, Yakobus Richard, mengatakan evaluasi terhadap kinerja kepala…
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menelusuri penggunaan anggaran perjalanan dinas yang selama periode tersebut mencapai Rp44,23…
Kabut asap pekat menyelimuti wilayah Timika dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi,…