Dokter yang lama berkecimpung dengan masyarakat suku pedalaman ini mengaku enggan mempersoalkan ketika kebijakan yang diambil pihak RSUD Jayapura ini diprotes banyak pihak.
Pasalnya dengan keterbatasan anggaran saat ini maka rumah sakit harus survival. Harus tetap eksis memberikan pelayanan kepada mereka yang betul membutuhkan. Bukan orang yang sudah diperingatkan namun keras kepala dan akhirnya kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit.
“Orang mau protes dengan kebijakan yang kami lakukan tak jadi masalah, toh mereka yang tidak kerja disitu (RSUD Jayapura-red). Memangnya siapa yang mau jalankan rumah sakit yang anggarannya tersisa Rp 28 Miliar dari sebelumnya mencapai Rp 300 hingga Rp 400 miliar, bahkan ada tunggakan utang sebesar Rp 12 miliar yang harus kami bayar,” bebernya.
Kata dr Aaron, jadi setiap orang mabuk yang biaya pengobatan lukanya akibat keelakaan ditanggung rumah sakit pasti akan mengalami kerugian. “Masa kita harus tutup rumah sakit ini gara-gara pasien pemabuk. Bahkan hingga saat ini, Kartu Port Numbay Sehat masih piutang Rp 2 miliar. Mending kami pikirkan pasien dari kampung yang susah dalam biaya pengobatan,” sindirnya. (fia/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Page: 1 2
Kapolres Jayawijaya melalui kabag Ops AKP Eddy Tohir Sabara menyatakan saat ini ada beberapa kelompok…
Kegiatan pemeriksaan rutin ini mencakup beberapa sasaran utama sikap tampang dan kerapian Pemeriksaan gampol (seragam…
Penyidikan kasus insiden berdarah di perumahan Rafles Residence, Jalan Irigasi Ujung, Mimika, memasuki babak baru.…
Wakil Bupati Yalimo, Yan Kirakla, SPd, meminta aparatur sipil negara (ASN) yang saat ini berada…
- Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dapil Papua Selatan, Indrajaya menyebutkan bahwa…
Mereka tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Papua Tengah. Di setang sepeda, bendera Merah…