Selain mendorong investigasi, Anthon juga menyoroti belum tuntasnya penanganan kelompok bersenjata di Papua. Menurutnya, negara perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi penanganan konflik yang selama ini diterapkan.Ia mengakui operasi keamanan di Papua menghadapi tantangan besar, mulai dari kondisi geografis yang berat, wilayah pegunungan dan hutan yang sulit dijangkau, hingga pola gerilya yang diterapkan kelompok bersenjata.
“Persoalan ini memang kompleks. Mereka bergerak dalam kelompok-kelompok kecil, berpindah-pindah, memanfaatkan medan yang sulit dijangkau. Selain itu juga ada dugaan dukungan logistik dan jaringan tertentu yang perlu diungkap,” ujarnya.Meski demikian, Anthon mengingatkan agar aparat tidak menggeneralisasi dukungan masyarakat terhadap kelompok bersenjata karena kondisi sosial di setiap daerah berbeda.
Menurutnya, konflik di Papua memiliki akar persoalan yang panjang, meliputi aspek sejarah, politik, pembangunan, kesejahteraan, hingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Karena itu, ia menilai penyelesaian konflik tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan.
“Penegakan hukum harus tetap dilakukan secara tegas terhadap pelaku tindak pidana. Namun di sisi lain perlu dibarengi dengan pembangunan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dialog dengan pihak-pihak terkait, serta perlindungan maksimal terhadap warga sipil,” jelasnya.
Anthon menegaskan, masyarakat sipil selama ini menjadi pihak yang paling dirugikan dalam konflik bersenjata di Papua. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap warga harus menjadi prioritas utama dalam setiap operasi keamanan.Ia juga mengingatkan pentingnya transparansi dan akuntabilitas negara dalam penanganan konflik agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
“Jangan sampai muncul anggapan bahwa operasi keamanan hanya menghabiskan anggaran tanpa memberikan rasa aman kepada masyarakat. Negara melalui TNI dan Polri harus mampu menunjukkan bahwa kehadiran mereka benar-benar melindungi warga sipil,” katanya.
Anthon menilai tindakan kekerasan terhadap warga sipil justru merusak klaim perjuangan ideologi yang dikemukakan kelompok bersenjata. “Kalau memang mengatasnamakan perjuangan ideologi, tindakan membunuh warga sipil justru mengotori perjuangan itu sendiri. Tindakan seperti ini adalah tindak kriminal yang harus diproses secara hukum dan tidak boleh dibiarkan,” tegasnya. (rel/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
-Regulasi Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) di tingkat kampung di Papua belum merata. Dari 1.029…
Penggunaan kembali prasarana penyeberangan ini disambut dengan rasa lega yang mendalam oleh masyarakat Abepura,…
Langkah ini menyusul keberhasilan evakuasi salah seorang korban selamat, Demerina Uamang (23), yang sempat diamankan…
Ketua HONAI, Pdt. Andrikus Mofu, menegaskan gereja tidak ingin masyarakat terus menjadi korban kekerasan, kehilangan…
Ia ditemukan tewas dengan kondisi terbakar bersama mobilnya. Yang bikin heboh adalah, sebelum dieksekusi, ia…
Kepala Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menduga aksi yang berlangsung di sejumlah daerah tersebut tidak…