“Negara jangan melihat masyarakat adat hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang harus dilibatkan secara setara dalam setiap pengambilan keputusan,” kata Thomas. Sebagai langkah konkret, POHR mendorong agar Pansus DPR nantinya turut melibatkan kalangan akademisi, LSM lingkungan, dan perwakilan masyarakat adat untuk melakukan verifikasi faktual langsung di lapangan. DPR juga dituntut menggunakan fungsi pengawasannya secara maksimal dengan memanggil pihak-pihak bertanggung jawab
“DPR harus menjadi instrumen representasi rakyat secara nyata, bukan sekadar corong penguasa dan oligarki. Pengrusakan hutan di Papua Selatan membutuhkan perhatian serius karena berdampak langsung terhadap keberlangsungan ekosistem dan eksistensi manusia Papua,” pungkas Thomas. (ans/rel/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Wakil Ketua I TP PKK Kabupaten Jayapura Anitha Hening Yocku dalam keterangannya di Jayapura, Kamis,…
"Generasi muda Papua adalah aset penting bangsa. Kita semua memiliki tanggung jawab bersama untuk membimbing,…
Kapolres Jayapura, AKBP Dionisius V.D.P Helan, memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) selama perayaan…
Menjelang perayaan Hari Raya Trisuci Waisak, umat Buddha di Kota Jayapura mulai sibuk bersiap. Vihara…
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua mendistribusikan bantuan logistik ke Kabupaten Mamberamo Raya mengantisipasi…
Menurutnya, hingga saat ini masih banyak kompleks perumahan warga yang belum memiliki bak atau kontainer…