“Negara jangan melihat masyarakat adat hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang harus dilibatkan secara setara dalam setiap pengambilan keputusan,” kata Thomas. Sebagai langkah konkret, POHR mendorong agar Pansus DPR nantinya turut melibatkan kalangan akademisi, LSM lingkungan, dan perwakilan masyarakat adat untuk melakukan verifikasi faktual langsung di lapangan. DPR juga dituntut menggunakan fungsi pengawasannya secara maksimal dengan memanggil pihak-pihak bertanggung jawab
“DPR harus menjadi instrumen representasi rakyat secara nyata, bukan sekadar corong penguasa dan oligarki. Pengrusakan hutan di Papua Selatan membutuhkan perhatian serius karena berdampak langsung terhadap keberlangsungan ekosistem dan eksistensi manusia Papua,” pungkas Thomas. (ans/rel/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Puskesmas Rimba Jaya yang berlokasi di Lepro, Kelurahan Rimba Jaya, Merauke, berada dalam satu kawasan…
Berdasarkan data tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten Merauke tercatat 17,4 persen atau sebanyak 1.462…
Bupati Jayawijaya Atenius Murib, SH, MH menyatakan saat ini pemerintah sedang berupaya untuk menfokuskan pembangunan…
Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, menegaskan bahwa Camporee Pathfinder Arafura International 2026 menjadi wadah…
Kapolres Jayawijaya melalui Kasat Reskrim Iptu Marcelino Rumambi, SH, MH membenarkan adanya kebakaran tersebut yang…
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Mimika, Iptu Hempy Ona, mengonfirmasi bahwa kecelakaan ini melibatkan satu…