Ditempat yang sama, Boni Sallah (21) salah satu orator mengatakan mengatakan negara sengaja mengirim aparat militer untuk mengawal investasi di Papua. “Papua sedang tidak baik-baik saja. Bagi orang Papua, hukum Indonesia kini menjadi alat penindasan,” ucapnya.
Sejumlah tutanpun disampaikan mahasiswa dalam aksi tersebut, salah satunya adalah menolak keras seluruh bentuk investasi kapitalistik yang merampas tanah dan hak hidup masyarakat adat papua.
Mereka juga meminta pemerintah untuk hentikan ekspansi industri ekstraktif seperti yang dilakukan PT Freeport, Blok Wabu, Invasi Sawit Food Estate serta perusahaan yang sedang mengeksplor sumber daya alam di Yahukimo, Intan Jaya, Maybrat, Raja Empat, Biak Nupor, hingga PSN di Merauke. Aksi ini berakhir siang hari dan semua berjalan tertib di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian. (jim/ade)
Page: 1 2
Berdasarkan hasil penyelidikan awal otoritas kepolisian, pelaku melancarkan aksinya dengan skema yang terstruktur. Mereka menjanjikan…
Sebanyak 141 warga negara Indonesia (WNI) tercatat sedang menjalani proses hukum dan hukuman di Papua…
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Selatan dr. Benedicta C. H. Rahangiar menjelaskan, koordinasi penanganan KLB…
Dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah Indonesia (Bakom) pada Rabu (24/6), JAM Pidsus…
Keputusan tersebut tidak datang begitu saja. Taufik diketahui sempat meminta saran kepada mantan atasannya, Dadang…
Laporan itu menjadi salah satu tuduhan paling serius yang pernah dilontarkan terhadap Israel sejak perang…